FALSAFAH INSANIYAH - FILFASAT PENDIDIKAN ISLAM


FALSAFAH INSANIYAH
DALAM PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM

MASRULLAH[1]


Abstrak: dalam al-Qur’an kata yang memiliki makna manusia meliputi al-basyar, al-insān, al-ins, al-nās, dan bani adam. Manusia makhluk ciptaan Allah yang terbaik, sebab Allah memberikan akal pikiran yang dilengkapi dengan fitrah atau potensi yang memang harus dikembangkan oleh manusia itu sendiri. Fitrah tersebut dikembangkan melalui pendidikan Islam yang dapat memberikan perubahan yang selaras dan terfokus pada masing-masing fitrah yang dimiliki manusia.  Fitrah tersebut meliputi fitrah beragama, berakal budi, bermoral dan berakhlak, kebersihan dan kesucian, kebenaran dan keadilan, kemerdekaan, persamaan dan persatuan, individu, seksual, ekonomi dan politik serta seni. Dari fitrah itulah yang selanjutnya pendidikan memiliki peranan penting berkaitan dengan pengembangan diri manusia dari segi potensi dan nalar pikirnya. Hal itu juga berkaitan dengan manusia yang menjadi hamba Allah dan khalifah di muka bumi yang harus memiliki pengetahuan dan ilmu yang dikembangkan dari potensi dasar manusia.

Kata kunci: falsafah insaniyah, pendidikan islam


Pendahuluan
Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang memiliki karakteristik dan keunikan serta berpengetahuan yang dapat membedakan dirinya dengan makhluk lainnya. Manusia diciptakan oleh Allah dengan sebaik-baiknya ciptaan, diberikan akal pikiran untuk berpikir dan memikirkan dirinya untuk apa diciptakan di muka bumi. Ditanamkan cinta di dalam dirinya, agar bisa mencintai sesamanya dan mencintai Allah dan Rasulnya serta dianjurkan oleh Allah untuk saling membantu sesamanya.
Al-quran telah banyak membahas tentang manusia, diantaranya manusia merupakan ciptaan Allah yang sempurna dan merupakan sebaik-baik cipataan Allah yang dilengkapi dengan akal dan pikiran.[2] Hal itu didasari oleh firman Allah dalam Q.S. al-Tîn ayat 4 sebagai berikut:
 لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ ٤
Artinya: “sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
Ayat diatas sangat jelas, bahwa manusia diciptakan dengan bektuk yang baik. Penciptaan manusia yang baik bukan hanya terletak dari segi fisiknya, tetapi juga kesucian dirinya dari segala macam hal. Manusia miliki fitrah yang dibawa sejak lahir ke dunia, fitrah itulah yang dapat dikembangan oleh manusia dengan berbagai cara dan pengetahuan.   
Manusia memiliki potensi yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia, dengan potensi itu manusi terdorong untuk ingin tahu dan bahkan mendapatkan nilai kebenaran, keindahan, dan kebaikan yang ada di dalam segala susatu yang nyata.[3] Adanya potensi di dalam diri manusia menjadi suatu kepemilikan yang harus dikembangkan oleh manusia itu sendiri, potensi yang dikembangkan akan memperbaiki kehidupannya menjadi lebih baik dengan diperolehnya pengetahuan yang benar. Manusia sejak lahir sudah terlibat di dalam kegiatan pendidikan, sehingga dikatakan bahwa manusia sangat erat kaitannya dengan pendidikan. Pendidikan sangat membantu terhadap pertumbuhan dan perkembangan manusia manuju ke arah yang lebih sempurna.
Melalui kegiatan pendidikan dan pembelajaran, manusia mendapatkan ilmu pengetahuan yang erat dengan nilai kebenaran baik bersifat universal, abstrak, teoritis, maupun praktis. Adanya nilai kebenaran inilah yang mendorong tebentuknya sikap dan perilaku yang arif dan berkeadilan. Sikap seperti itulah yang akan menjadi dasar bagi manusia untuk membangun kebudayaan dan peradaban. Terbentuknya kebudayaan yang sifatnya material maupun spiritual merupakan upaya manusia untuk mengubah dan membangun hubungan manusia yang berimbang kepada sesama manusia maupun kepada Allah Swt.[4]
Manusia yang mengembangkan dirinya melalui pendidikan, tentu akan memiliki perbedaan dengan yang lainnya. tulisan ini akan membahas berkenaan dengan konsep manusia dalam al-qur’an, penciptaan manusia dan kedudukannya di dunia, potensi yang dimiliki oleh manusia, dan manusia dalam kaitannya dengan pendidikan Islam.

Penciptaan Manusia dan Kedudukannya di Dunia
Manusia diciptakan oleh Allah dengan maksud dan tujuan tertentu. Manusia menjadi makhluk yang unik dan memiliki daya pikir yang tidak dimiliki oleh ciptaan Allah yang lainnya. Allah menciptakan manusia dari tanah dan akan kembali lagi ke tanah sebagai tempat jasad yang terahir. Proses penciptaan manusia melalui beberapa fase, dan fase-fase tersebut dijelaskan dalam Q.S. al-Mukminun ayat 12-16 sebagai berikut:
وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ مِن سُلَٰلَةٖ مِّن طِينٖ ١٢  ثُمَّ جَعَلۡنَٰهُ نُطۡفَةٗ فِي قَرَارٖ مَّكِينٖ ١٣ ثُمَّ خَلَقۡنَا ٱلنُّطۡفَةَ عَلَقَةٗ فَخَلَقۡنَا ٱلۡعَلَقَةَ مُضۡغَةٗ فَخَلَقۡنَا ٱلۡمُضۡغَةَ عِظَٰمٗا فَكَسَوۡنَا ٱلۡعِظَٰمَ لَحۡمٗا ثُمَّ أَنشَأۡنَٰهُ خَلۡقًا ءَاخَرَۚ فَتَبَارَكَ ٱللَّهُ أَحۡسَنُ ٱلۡخَٰلِقِينَ ١٤ ثُمَّ إِنَّكُم بَعۡدَ ذَٰلِكَ لَمَيِّتُونَ ١٥  ثُمَّ إِنَّكُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ تُبۡعَثُونَ ١٦
Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah (12), Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim) (13), Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. (14), Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. (15), Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat. (16) (Q.S. al-Mukminun: 12-16)

Berdasarkan ayat di atas dapat diketahui bahwa manusia diciptakan dari sari pati yang berasal dari tanah, yang kemudian Allah menjadikan sari pati tersebut menjadi air mani yang tersimpan di rahim wanita. Selama di dalam rahim, Allah menunjukkan kekuasaanya dengan mengubah air mani menjadi segumpal daging dan kemudian daging tersebut manjadi tulang-belulang yang pada akhirnya dibungkus dengan daging lagi. Selanjutnya Allah menjadikan hal itu berbentuk makhluk yang wujudnya manusia seperti sekarang ini.
Setelah Allah menyempurnakan bentuk ciptaannya, kemudian Allah meniupkan ruh ke dalam jasad bayi tersebut dan Allah memerintahkan malaikat untuk tunduk menghormatinya. Tetapi ketika manusia sudah hidup di muka bumi, sering kali terdapat permasalahan yang dilakukan baik terhadap sesama atau terhadap sang pencipta. Darwis menyatakan bahwa terdapat tiga hal yang dijumpai dalam kehidupan manusia, yaitu:
1.    Allah meniupkan ruh ke dalam diri manusia sebagai ruh ilâhiyah. Sehingga manusia memiliki potensi untuk mengetahui nilai kebaikan dan memiliki kemampuan yang dapat dikembangkan dalam pendidikan. sehingga manusia menjadi makhluk Allah yang tinggi derajatnya dibandingkan dengan makhluk lainnya, hal itu dikatakan sebagai sesuatu yang positif dalam diri manusia.
2.    Terdpat manusia yang memiliki sifat sombong dan serakah, dan sifat itu merupakan sifat syaitan. Apabila manusia bersikap demikian, maka manusia tersebut dikategorikan manusia yang merugi, dan hal itu menjadi sesuatu yang negatif dalam diri manusia.
3.    Sifat nafsu jahat akan menyentuh manusia dalam kepentingan kepuasan secara lahiriyah, sehingga manusia lupa atas keinginan Allah dalam menciptakan manusia.[5]
Manusia dalam al-Qur’an sering kali mendapat dari Allah, sebagaimana yang sudah terdapat di dalam firman-Nya bahwa manusia diciptakan dalam bentuk dan keadaan yang sebaik-baiknya. Disamping itu, sering pula manusia mendapat celaan dari Allah, seperti halnya manusia itu serigkali ingkar, berkeluh kesah dan bersifat kikir.[6] Hal ini berkaitan dengan tiga hal tersebut di atas, orang yang memanfaatkan potensinya untuk kebaikan, untuk beribadah kepada Allah, maka dia termasuk orang yang dipuji oleh Allah. Sedangkan orang yang sombong, orang yang angkuh, orang yang serakah dan hanya mengandalkan hawa nafsunya semata, maka dia termasuk pada orang yang di cela oleh Allah, dan akan mendapatkan balasan dari Allah.
Diciptakannya manusia di bumi, memiliki tujuan tertentu sebagaimana Allah menjelaskan di dalam al-Qur’an bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah, sebagaimana firman Allah sebagai berikut:
وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦
Artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Q.S. al-Dzariyat : 56)

Tujuan hidup manusia pada akhirnya akan berkaitan dengan tujuan pendidikan Islam, sebab pendidikan Islam pada dasarnya memiliki tujuan untuk memelihara kehidupan manusia. Tujuan pendidikan manusia harus berkaitan erat dengan tujuan hidup manusia dan tujuan diciptakannya manusia oleh Allah.[7] Allah menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya dengan penuh ketakwaan dan keikhlasan, sebab yang bertakwa dan yang ikhlak dalam beridah tentu akan menjadi kekasih Allah.
Manusia diciptakan oleh Allah untuk mengimplementasikan tugas-tugas ilahiyah yang mengandung banyak kemaslahatan dalam kehidupan, manusia membawa amanah dari Allah yang mesti diterapkan dalam kehidupan nyata. Sehingga keberadaan manusia di dunia memiliki tugas yang mulia, yaitu sebagai khalifah.[8]
Manusia diciptakan oleh Allah tidak hanya memiliki tujuan saja, tetapi juga sebagai hamba Allah (‘abd Allah) yang memiliki peranan penting untuk melayani Tuhannya sekaligus dijadikan sebagai khalifah di bumi.[9] Kekhalifahan umat manusia di bumi ditegaskan dengan adanya firman Alah sebagai berikut:
وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٣٠
Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". (Q.S. al-Baqarah : 30)

Dalam suatu kedudukan manusia, khalifah diartikan sebagai pengganti. Manusia selaku khalifah di bumi memiliki beberapa karakteristik, sebagaimana disampaikan oleh Hasan Langgulung yang dikutip oleh Suharto, sebagai berikut:
a.    Manusia diciptakan oleh Allah dalam keadaan suci sejak dia lahir, dan tidak ada dosa sedikitpun.
b.    Adanya interaksi antara badan dan ruh dapat menghasilkan khalifah, sehingga dapat membedakan dengan makhluk yang lain.
c.    Manusia memiliki kebebasan untuk menentukan pola tingkah lakunya sendiri.
d.    Manusia dianugerahkan akal pikiran yang dapat menentukan salah dan benar.[10]
Dari karakteristik tersebut dapat dipahami, bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan suci tanpa ada dosa sedikitpun. Kekhalifahan yang dimiliki oleh setiap manusia berdasarkan adanya interaksi anatar badan dengan ruh manusia, keduanya saling keterkaitan dan saling berhubungan. Pola tingkah laku yang dihasilkan oleh manusia desebabkan karena adanya kebebasan yang dimiliki oleh manusia, dan itu menunjukkan bahwa manusia memang memiliki keistimewaan dari pada yang lain. Keistimewaan itu juga dikaitan dengan akal pikiran manusia, jika manusia yang memiliki akal pikir tersebut memanfaatkan dengan membawa dirinya bertakwa kepada Allah, tentu dia akan sangat istimewa dihadapan Allah.

Konsep Manusia dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an yang menjadi pedoman bagi setiap kehidupan manusia banyak menjelaskan tentang konsep manusia. Muin Salim menyatakan sebagaimana di kutip oleh Mahmud, bahwa dalam memahami konsep manusia dapat menggunakan dua cara, yaitu: pertama, dengan menelusuri kata-kata yang digunakan dalam al-Qura’an yang memiliki makna manusia. Kedua, dapat mencari ayat-ayat al-Qur;an yang berhubungan dengan potensi yang dimiliki oleh manusia.[11] Kedua cara tersebut dapat digunakan  dalam mengetahui sebanarnya untuk apa manusia diciptakan dan melihat potensi-potensi yang dimiliki oleh manusia. Dengan menelusuri kata-kata yang digunakan di dalam al-Qur’an, akan menghasilkan banyak pengetahuan, peringatan, pujian, dan ancaman.
Sebelum lebih jauh mengetahui tentang konsep manusia, Al-syaibany mengemukakan delapan prinsip yang menjadi dasar pandangan Islam terhadap manusia, yaitu:
1.    Manusia merupakan makhluk paling mulia yang dianugerahkan keistimewaan oleh Allah Swt.
2.    Atas dasar kemuliaan itu diberikan amanah kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi atas tujuan untuk mamakmurkan bumi dengan dasar ibadah dengan penuh ketakwaan kepada Allah.
3.    Manusia sebagai makhluk sosial yang menggunakan bahasa sebagai media untuk mengutarakan pemikirannya.
4.    Manusia dinyatakan sebagai makhluk tiga dimensi yang meliputi badan, akal, dan ruh.
5.    Pertumbuhan dan perkembangan manusia merupakan hasil dari faktor warisan/katurunan dan lingkungan.
6.    Manusia memiliki kebutuhan dan motivasi yang dihasilkan dari sendiri dan berdasarkan interaksi.
7.    Secara individu, manusia memiliki perbedaan yang dihasilkan dari proses keturunan dan lingkungan.
8.    Manusia memiliki sifat luwes dan berubah-ubah yang dihasilkan dari interaksi sosial dalam lingukangan dan melalui pendidikan.[12]

Delapan prinsip tersebut merupakan pandangan bahwa manusia ciptaan Allah adalah ciptaan termulia dengan berbagai kemampuan akal pikiran yang dianugerahkan oleh Allah. Selain itu, terdapat tiga kata yang digunakan di dalam al-Qur’an sebagaimana dinyatakan oleh Quraish Shihab di dalam bukunya, yaitu:
1.    Menggunakan kata yang terdiri dari huruf alif, nun, dan sin, seperti insân, ins, nâs, atau unâs dan al-nâs.
2.    Menggunakan kata basyar
3.    Mengunakan kata Bani Adam, dan dzurriyah Adam.[13]
Kata-kata tersebut di atas memiliki sama memiliki makna manusia, tetapi terdapat penekanan yang berbeda dari masing-masing kata tersebut. Hal itu dapat diketahui dan dipahami sebagaimana uraian berikut:
1.    Kata al-insân
Kata al-insân berasal dari kata al-uns yang berarti lemah lembut, harmonis, tampak atau pelupa. Kata al-insân dinyatakan di dalam al-Qur’an sebanyak 73 kali dan tersebar dalam 43 surah. Kata al-insân yang digunakan dalam al-Qur’an untuk menunjukkan totalitas manusia sebagai makhluk yang terdiri dari jasmani dan rohani.[14]
Manusia merupakan makhluk yang memiliki keistemewaan, sehingga berbeda dengan makhluk lainnya. Manusia memiliki dimensi fisik yang sempurna, dan dimensi ruh yang dilengkapi dengan segala potensi. Potensi manusia dapat dilihat dari dua aspek, yaitu diketahui dari kata al-basyar untuk mengetahui potensi jasmani dan untuk mengetahui potensi rohani dilihat dari kata al-insân.
Kata al-insân digunakan al-Qur’an untuk menunjukkan totalitas manusia sebagai makhluk jasmani dan rohani. Harmonisasi kedua aspek tersebut mengantar manusia sebagai makhluk Allah yang unik, istimewa, sempurna dan memiliki diferensiasi individu antara yang satu dengan yang lainnya, dan sebagai makhluk yang dinamis, sehingga mampu menyandang predikat khalifah di bumi. [15]
Pada beberapa ayat, Allah menyandingkan kata al-insân dengan kata syaitan. Ayat tersebut tentunya memberikan peringatan dan penyadaran kepada kita semua, agar kita senantiasa berada dalam posisi yang fitrah sesuai dengan keinginan Allah Swt. Dalam hal ini, Allah berfirman dalam surah Yusuf ayat 5 dan juga di surah al-Isra’ ayat 53.
قَالَ يَٰبُنَيَّ لَا تَقۡصُصۡ رُءۡيَاكَ عَلَىٰٓ إِخۡوَتِكَ فَيَكِيدُواْ لَكَ كَيۡدًاۖ إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ لِلۡإِنسَٰنِ عَدُوّٞ مُّبِينٞ ٥
Artinya: Ayahnya berkata: "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia" (Q.S. Yusuf : 5)

وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُواْ ٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ يَنزَغُ بَيۡنَهُمۡۚ إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ كَانَ لِلۡإِنسَٰنِ عَدُوّٗا مُّبِينٗا ٥٣
Artinya: Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (Q.S. al-Isra’ : 53)

Kedua ayat tersebut sangat jelas, bahwa manusia seringkali digoda oleh syaitan. Syaitan mendekati manusia dengan berbagai cara untuk menjerumuskan manusia kepada jalan yang sesat. Adanya ayat al-Qur’an yang menyandingkan kata al-insân dengan kata syaitan, memberikan peringatan bagi kita semua agar selalu berhati-hati dalam segala hal, baik dalam perkataan, perbuatan, atau pengambilan keputusan. Sebab sangat jelas sekali bahwa syaitan adalah musuh yang nyata bagi manusia.
Kata al-insân juga menjelaskan sifat umum serta kelebihan dan kelemahan manusia[16] antara lain sebagai berikut:
a.    Semua keinginan manusia belum tentu berhasil diraih semuanya, apabila Allah tidak menginginkannya. Allah berfirman:
 أَمۡ لِلۡإِنسَٰنِ مَا تَمَنَّىٰ ٢٤ فَلِلَّهِ ٱلۡأٓخِرَةُ وَٱلۡأُولَىٰ ٢٥
Artinya: Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya. (Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia. (Q.S. an-Najm: 24-25)

b.    Gembira bila dapat nikmat dan susah bila mendapatkan cobaan. Allah berfirman:
فَإِنۡ أَعۡرَضُواْ فَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ عَلَيۡهِمۡ حَفِيظًاۖ إِنۡ عَلَيۡكَ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُۗ وَإِنَّآ إِذَآ أَذَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ مِنَّا رَحۡمَةٗ فَرِحَ بِهَاۖ وَإِن تُصِبۡهُمۡ سَيِّئَةُۢ بِمَا قَدَّمَتۡ أَيۡدِيهِمۡ فَإِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ كَفُورٞ ٤٨
Artinya: Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah). Sesungguhnya apabila Kami merasakan kepada manusia sesuatu rahmat dari Kami dia bergembira ria karena rahmat itu. Dan jika mereka ditimpa kesusahan disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri (niscaya mereka ingkar) karena sesungguhnya manusia itu amat ingkar (kepada nikmat). (Q.S. al-Syurâ: 48)

c.    Manusia sering bertindak bodoh dan zalim, baik kepada dirinya sendiri maupun kepada orang lain. Allah berfirman:
إِنَّا عَرَضۡنَا ٱلۡأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱلۡجِبَالِ فَأَبَيۡنَ أَن يَحۡمِلۡنَهَا وَأَشۡفَقۡنَ مِنۡهَا وَحَمَلَهَا ٱلۡإِنسَٰنُۖ إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومٗا جَهُولٗا ٧٢
Artinya: Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. (Q.S. al-Ahzâb: 72)

d.    Manusia sering lagu dalam merumuskan suatu perkara. Allah berfirman:
وَيَقُولُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَءِذَا مَا مِتُّ لَسَوۡفَ أُخۡرَجُ حَيًّا ٦٦ أَوَ لَا يَذۡكُرُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَنَّا خَلَقۡنَٰهُ مِن قَبۡلُ وَلَمۡ يَكُ شَيۡ‍ٔٗا ٦٧
Artinya: Dan berkata manusia: "Betulkah apabila aku telah mati, bahwa aku sungguh-sungguh akan dibangkitkan menjadi hidup kembali?. Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali. (Q.S. Maryam: 66-67)

e.    Manusia sering kali lupa diri dan bersifat kikir bila mendapat suatu kenikmatan. Allah berfirman:
قُل لَّوۡ أَنتُمۡ تَمۡلِكُونَ خَزَآئِنَ رَحۡمَةِ رَبِّيٓ إِذٗا لَّأَمۡسَكۡتُمۡ خَشۡيَةَ ٱلۡإِنفَاقِۚ وَكَانَ ٱلۡإِنسَٰنُ قَتُورٗا ١٠٠
Artinya: Katakanlah: "Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya". Dan adalah manusia itu sangat kikir. (Q.S. al-Isra’: 100)

f.     Manusia adalah makhluk yang lemah, gelisah, dan tergesa-gesa. Allah berfirman:
يُرِيدُ ٱللَّهُ أَن يُخَفِّفَ عَنكُمۡۚ وَخُلِقَ ٱلۡإِنسَٰنُ ضَعِيفٗا ٢٨
Artinya: Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah. (Q.S. al-Nisa’: 28)

Kata al-insân memiliki kandungan makna kesempurnaan yang sesuai dengan tujuan penciptaan manusia dengan keunikan sebagai makhluk Allah yang ditinggikan derajatnya dari pada makhluk yang lain. Manusia diciptakan memiliki kelebihan dan keistimewaan, selain itu manusia juga memiliki keterbatasan, tergesa-gesa, resah, dan gelisah.[17] Sehingga manusia sering kali lalai dan melupakan nilai insaniyah yang dimilikinya dengan membuat kerusakan di bumi.[18]
Dari pemaknaan manusia dari kata al-insân, diketahui bahwa manusia merupakan makhluk Allah yang memiliki sifat-sifat manusiawi yang bernilai positif dan negatif. Sehingga manusia bisa selamat dan mampu memfungsikan dirinya dengan melaksanakan tugas yang sudah diamanahkan oleh Allah dan memanfaatkan kedudukannya di bumi dengan senantiasa melakukan aktivitas yang baik sesuai dengan nilai ajaran Islam.[19] Manusia harus memfungsikan dirinya sebagai hamba Allah yang selalu mekukan aktivitas yang bernilai ibadah sesuai dengan tuntunan Islam.

2.    Kata al-ins
Kata al-ins di dalam al-qur’an diketahui bahwa manusia selalu berkaitan dengan al-jin. Allah berfirman:
يَٰمَعۡشَرَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ إِنِ ٱسۡتَطَعۡتُمۡ أَن تَنفُذُواْ مِنۡ أَقۡطَارِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ فَٱنفُذُواْۚ لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلۡطَٰنٖ ٣٣
Artinya: “Hai jama´ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.” (Q.S. ar-Rahman: 33)

Ayat tersebut diatas menjelaskan bahwa manusia dan jin memiliki tantangan untuk menembus penjuru langin dan bumi. Selain itu juga terdapat makna yang meliki tujuan beribadah kepada Allah. Hal itu juga berkaitan dengan jin yang penciptaannya memiliki tujuan yang sama dengan manusia. Allah Swt. berfirman:
وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦
Artinya: “dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Q.S. al-Dzariyyat: 56)

Berdasarkan ayat di atas, manusia dalam konsep al-ins menjadi orang yang harus mengabdi kepada Allah. Dengan demikian, manusia dalam hidupnya diharapkan akan selalu menyadari hakikat tersebut. Manusia dituntut memerankan dirinya menjadi pengabdi Allah secara konsisten dengan penuh ketaan. Ketaatan manusai kepada Allah merupakan puncak dalam segala aspek kehidupannya, dan atas dasar mengabdi kepada Allah, manusia itu diciptakan.[20]
Manusia mendapatkan tantangan dari Allah untuk membuat yang serupa dengan al-Qur’an. Sebagaimana firman Allah:
قُل لَّئِنِ ٱجۡتَمَعَتِ ٱلۡإِنسُ وَٱلۡجِنُّ عَلَىٰٓ أَن يَأۡتُواْ بِمِثۡلِ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانِ لَا يَأۡتُونَ بِمِثۡلِهِۦ وَلَوۡ كَانَ بَعۡضُهُمۡ لِبَعۡضٖ ظَهِيرٗا ٨٨
Artinya: “Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain" (Q.S. al-Isra’: 88)

Dalam konsep ini, berdasarkan ayat di atas diketahui bahwa manusia mendapatkan tantangan dari Allah untuk melintasi langit dan bumi serta tantangan membuat yang serupa al-Qur’an, yang mana hal itu menunjukkan bahwa manusia tidak memiliki daya dan kekuatan apapun kecuali ata izi Allah. Manusia yang  merupakan ciptaan Allah, sebagai hamba Allah haruslah mengabdi sepenuhnya kepada Allah. Pengambdian tersebut dapat dilakukan dengan beribadah kepada Allah, dan saling berinteraksi yang baik kepada para sesama manusia.

3.    Kata al-nâs
Kata al-nâs dipakai di dalam al-Qur’an untuk menunjuk komunitas manusia yang memiliki kesamaan potensi dasar sebagai hakikat manusia. Sehingga dalam hal ini, kata al-nâs dimaknai dengan pengertian manusia yang dipandang secara umum tanpa terkecuali.[21] Kata al-nâs dalam al-Qur’an dinyatakan sebanyak 240 kali dan tersebar dalam 53 surat.[22]
Istilah al-nâs menunjukkan arti manusia yang dijabarkan sebagai kelompok sosial dengan karakteristiknya, yang dikenali dengan ungkapan wa min al-nâs.[23] Sebagaimana firman Allah:
وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَمَا هُم بِمُؤۡمِنِينَ ٨
Artinya: “di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian," pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.” (Q.S. al-Baqarah: 8)

فَإِذَا قَضَيۡتُم مَّنَٰسِكَكُمۡ فَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ كَذِكۡرِكُمۡ ءَابَآءَكُمۡ أَوۡ أَشَدَّ ذِكۡرٗاۗ فَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي ٱلدُّنۡيَا وَمَا لَهُۥ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنۡ خَلَٰقٖ ٢٠٠
Artinya: “apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (Q.S. al-Baqarah: 200)

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعۡبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرۡفٖۖ فَإِنۡ أَصَابَهُۥ خَيۡرٌ ٱطۡمَأَنَّ بِهِۦۖ وَإِنۡ أَصَابَتۡهُ فِتۡنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجۡهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةَۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡخُسۡرَانُ ٱلۡمُبِينُ ١١
Artinya: “dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (Q.S. al-Hajj: 11)

Selain itu juga terdapat manusia yang mempunyai kualitas rendah, baik dari segi ilmu maupun dari segi iman yang diungkapkan dengan aktsar al-nâs.[24] Sebagaimana firman Allah:
قُلۡ إِنَّمَا عِلۡمُهَا عِندَ ٱللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ١٨٧
Artinya: “.... Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (Q.S. al-A’raf: 187)

إِنَّهُ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يُؤۡمِنُونَ ١٧
Artinya: “.... Sesungguhnya (Al Quran) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.” (Q.S. Hûd: 17)

Tidak hanya itu, ada kata al-nâs juga berkaitan dengan peternakan, dan kepemimpina.[25] Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menerangkap konsep manusia berkaitan dengan kata al-nâs.
وَلَمَّا وَرَدَ مَآءَ مَدۡيَنَ وَجَدَ عَلَيۡهِ أُمَّةٗ مِّنَ ٱلنَّاسِ يَسۡقُونَ وَوَجَدَ مِن دُونِهِمُ ٱمۡرَأَتَيۡنِ تَذُودَانِۖ .....٢٣
Artinya: “dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). ...." (Q.S. al-Qashash: 23)

۞وَإِذِ ٱبۡتَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِ‍ۧمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٖ فَأَتَمَّهُنَّۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامٗاۖ... ١٢٤
Artinya: “dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". (Q.S. al-Baqarah: 124)

Masih banyak lagi ayat al-Qur’an yang memiliki kata al-nâs dan memiliki maksud dan tujuan berbeda yang diambil dari semua makhluk dan ditujukan pada semua makhluk manusia. Maksud dan tujuan tersebut merupakan penjelasan terhadap kebesaran Allah melalui fenomena alam semesta, sehingga manusia dapat mengambil nasihat, pelajaran, motivasi untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt.

4.    Kata al-basyar
Kata al-basyar dalam al-Qur’an disebutkan sebanyak 36 kali dan tersebar dalam 26 surah. Kata al-basyar berarti kulit kepala, wajah dan tubuh yang menjadi tempat tumbuhnya rambut. Penamaan ini menunjukkan bahwa secara biologis yang mendominasi manusia adalah kulit, dibanding rambut atau bulunya. sehingga terlihat perbedaan secara umum biologis manusia dengan hewan, yang mana hewan lebih didominasi oleh bulu atau rambut. [26]
Al-basyar juga diartikan sebagai mulâmasah yang berarti persentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan. Makna etimologis ini dapat dipahami bahwa manusia marupakan makhluk biologis yang memiliki sifat kemanusiaan dan keterbatasan. Kata basyar ditujukan kepada semua manusia tanpa ada pengecualian sedikitpun.[27] Allah berfirman:
قَالَتۡ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي وَلَدٞ وَلَمۡ يَمۡسَسۡنِي بَشَرٞۖ قَالَ كَذَٰلِكِ ٱللَّهُ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُۚ إِذَا قَضَىٰٓ أَمۡرٗا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ٤٧
Artinya: “Maryam berkata: "Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun". Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): "Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah dia.” (Q.S. Ali Imran: 47)

قُلۡ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۖ فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا ١١٠
Artinya: “Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (Q.S. al-Kahfi: 110)

وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنۡ خَلَقَكُم مِّن تُرَابٖ ثُمَّ إِذَآ أَنتُم بَشَرٞ تَنتَشِرُونَ ٢٠
Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.” (Q.S. ar-Rum: 20)

Banyak ayat yang al-Qur’an yang menggunakan kata basyar yang mengisyaratkan bahwa proses kejadian manusia sebegai basyar melalui tahapn-tahapan sehingga mencapai tahap kedewasaan.[28] Seluruh proses kejadian manusia akan mengalami reproduksi seksual yang senantiasa berupaya memenuhi semua kebutuhan biologisnya, hal itu memerlukan waktu yang didasari atas hukum alamiah yang berupa sunnatullah dan takdir Allah.

5.    Kata Bani Adam
Bani Adam merupakan kata yang bermakna keturunan nada Adam as. Menurut al-Thabathba’i sebagaimana dikutip oleh Siswato bahwa pengunaan Bani Adam menunjuk pada arti manusia secara umum, yang dapat dikaji dari tiga aspek, yaitu: pertama, anjuran dengan ketentuan berbudaya yang sesuai dengan ketentuan yang telah Allah tentukan. Kedua, mengingatkan kepada keturunan Nabi Adam agar tidak terjerumus dalam rayuan syaitan yang mnyesatkan dan mengajak pada keingkaran. Ketiga, memanfaatkan semua isi alam dalam rangka ibadah kepada Allah.[29]
Dalam al-Qur’an, Allah sering kali menyebut manusia dengan kata Bani Adam, dari sebagian ayat tersebut, kata Bani Adam dikonotasikan sebagai salah satu makhluk ciptaan Allah swt yang memiliki hubungan tidak hanya dengan sesama manusia, tetapi juga dengan makhluk yang lain seperti dengan jin, malaikat dan sebagainya. Oleh karenanya, manusia dalam menjalankan kewajibannya, senantiasa mendapat rintangan dan godaan dari iblis dan jin, sedangkan malaikat akan senantiasa membantu dalam menghadapi godaan tersebut.[30]
۞يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمۡ عِندَ كُلِّ مَسۡجِدٖ وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ وَلَا تُسۡرِفُوٓاْۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ ٣١
Artinya: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Q.S. al-A’raf: 31)

۞أَلَمۡ أَعۡهَدۡ إِلَيۡكُمۡ يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ أَن لَّا تَعۡبُدُواْ ٱلشَّيۡطَٰنَۖ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ ٦٠
Artinya: “Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu" (Q.S. Yasin: 60)

Ayat tersebut merupakan penekanaan pada aspek amaliyah yang harus dilakukan oleh anak Adam ketika hendak pergi ke masjid. Semua anak Adam dianjurkan untuk memakai pakaian yang indah, makan dan minum yang tidak melampaui batas yang sudah ditentukan menurut syari’at. Lain halnya dengan ayat selanjutnya di atas, yang membahas mengenai perintah agar tidak menyembah syaitan. Sebab syaitan merupakan musuh yang nyata bagi manusia.

Rakhmat dalam Zaprulkhan menyatakan bahwa al-Qur’an memandang manusia sebagai makhluk biologis, psikologis, dan sosial. Apabila ada hukum yang berkenaan dengan karakteristik biologis manusia, maka ada hukum yang mengendalikan manusia sebagai makhluk psikologis dan makhluk sosial.[31] Ketiga macam tersebut memang berkaitan erat dengan manusia yang telah tercantum di dalam al-Qur’an.
Berdasarkan istilah-istilah yang bermakna manusia yang terdapat di dalam al-Qur’an, seperti kata al-insān, al-ins, al-nās, al-basyar, dan  bani adam, sebagaimana telah dijelaskan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pada masing-masing kata tersebut terdapat penekanan yang berbeda, misalnya pada kata al-insān atau al-ins yang dikategorikan pada manusia yang dipandang secara psikologi, sedangkan kata al-nās dikategorikan sebagai manusia yang dilihat dari segi sosialnya, pada kata al-basyar dikategorikan sebagai manusia dari sudut pandang biologinya, dan pada kata bani adam dikategorikan sebagai manusia dari segi antropologinya. Adanya penekanan yang berbeda dari makna yang sama dapat memberikan kita cara untuk membuat kita paham dengan lebih mudah, sehingga tidak menimbulkan suatu kebingungan pada diri kita.

Potensi yang Dimiliki oleh Manusia
Allah menciptakan manusi dengan potensinya, sehingga manusia dapat mengembangan potensi tersebut ke arah yang lebih baik. Potensi dalam bahasa agama disebut dengan fitrah. Fitrah berarti kesucian, bebas dari noda dan dosa, seperti halnya bayi yang baru saja dilahirkan dari perut ibunya. Sejak lahir manusia sudah memiliki pontensi yang harus dikembangkan sesuai dengan perintah Allah, yakni menuju pada jalan ketakwaan.
Fitrah sebagai potensi yang dimiliki manusia, memiliki keterpaduan yang tersimpul dalam asma’ul husna. Tetapi terdapat batasan di dalamnya, misal Allah al-‘ilmu (Maha Mengetahui), maka manusia pun memiliki potensi yang bersifat mengetahui, tetapi kemampuan manusia sangat jauh berbeda dengan Allah. Sebab, Allah adalah Maha Sempurna, sedangkan manusia memiliki sifat keterbatasan.[32]
Ahmad Tafsir[33] menyatakan bahwa potensi yang dimiliki manusia, pertama, sebagai makhluk sosial, yang mana manusia membawa sifat ingin bermasyarakat. Sebagaimana firman Allah:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ ١٣
Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. al-Hujurat: 13)

Kedua, sebagai makhluk yang ingin beragama, sehingga pendidikan agama dan lingkungan beragama perlu disediakan bagi manusia. Allah berfirman:
وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِيٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَأَشۡهَدَهُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ قَالُواْ بَلَىٰ شَهِدۡنَآۚ أَن تَقُولُواْ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنۡ هَٰذَا غَٰفِلِينَ ١٧٢
Artinya: “dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" (Q.S. al-A’raf: 172)

Pemahaman tentang fitrah manusia bisa dikaji dari ajaran agama Islam, sebagaimana firman Allah sebagai berikut:
فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفٗاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٣٠
Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Q.S. al-Rum: 30)

Muhaimin menyatakan bahwa fitrah manusia banyak macamnya, sehingga dipetakan sebagai berikut:
1.      Fitrah beragama merupakan potensi bawaan yang memberikan kemampuan kepada manusia untuk tunduk, dan taat dalam melaksanakan perintah Allah.
2.      Fitrah berakal budi merupakan potensi manusia untuk selalu berpikir akan kekuasaan dan keagungan yang dimiliki Allah.
3.      Fitrah bermoral dan berakhlak merupakan potensi manusia dalam melaksanakan nilai-nilai moral dan akhlak dalam kehidupannya.
4.       Fitrah kebersihan dan kesucian merupakan potensi manusia untuk selalu menjaga dan mencintai kebersihan.
5.      Fitrah kebenaran merupakan potensi manusia yang selalu mencari dan mencapai kebenaran.
6.       Fitrah kemerdekaan merupakan potensi manusia untuk mempunyai kebebasan dan kemerdekaan dan tidak terbelenggu dan menjadi budak orang lain.
7.      Fitrah keadilan merupakan fitrah yang mendorong manusia untuk menegakkan keadilan di bumi.
8.      Fitrah persamaan dan persatuan merupakan potensi manusia untuk mempersamakan dan mempersatukan serta menentang diskriminasi berdasarkan ras, suku, bahasa dan lainnya.
9.       Fitrah individu merupakan potensi manusia untuk melakukan tindakan dengan penuh tanggung jawab  dan menyelesaikan persoalan dan menjaga harga diri dan kehormatan diri dan keluarga.
10.  Fitrah sosial merupakan mendorong manusia untuk hidup bersama, bekerjasama, gotong royong dan saling membantu.
11.  Fitrah seksual merupakan potensi untuk memberikan dorongan untuk membentuk keluarga dan menghasilkan keturunan, dan kepada keturunannyalah manusia bisa mewariskan nilai yang diyakini benar.
12.  Fitrah ekonomi merupakan potensi yang mendorong manusia memenuhi kebutuhan hidupnya.  
13.  Fitrah politik merupakan fitrah yang mendorong manusia untuk berusaha menyusun suatu kekuasaan dan institusi yang mampu melindungi kepentingan bersama.
14.  Fitrah seni merupakan untuk mendorong manusia untuk mencintai seni mengembangkannya dalam kehidupan.[34]

Fitrah tersebut di atas pasti dimiliki oleh masing-masing manusia, dan tentunya fitrah tersebut tidak langsung tampak begitu saja dalam diri manusia, melainkan melalui perihal tertentu yang dilakukan oleh manusia. Manusia tidak bisa mengetahui terhadap fitrah yang Allah berikan, jika manusia itu tidak bisa mengkaji dirinya sendiri. Manusia yang paham pada dirinya sendiri, tentu akan bisa mengembangkan fitrahnya melalui berbagai cara yang salah satu melalui belajar dan belajar tersebut tidak terbatas pada waktu dan ruang.

Selain dari fitrah yang telah disebutkan di atas, terdapat juga ala-alat potensial sebagaimana dinyatakan oleh Abdul Fattah Jalal dalam Muhaimin, beliau telah mengkaji ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan alat-alat potensial (fitrah) manusia sebagai berikut:
1.    Al-Lams dan al-syum (alat peraba dan alat penciuman/ pembau) sebagaimana dalam al-Qur’an dinyatakan:
وَلَوۡ نَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ كِتَٰبٗا فِي قِرۡطَاسٖ فَلَمَسُوهُ بِأَيۡدِيهِمۡ لَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ مُّبِينٞ ٧
Artinya: “Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka dapat menyentuhnya dengan tangan mereka sendiri, tentulah orang-orang kafir itu berkata: "Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata". (Q.S. al-An’am: 7)

وَلَمَّا فَصَلَتِ ٱلۡعِيرُ قَالَ أَبُوهُمۡ إِنِّي لَأَجِدُ رِيحَ يُوسُفَۖ لَوۡلَآ أَن تُفَنِّدُونِ ٩٤
Artinya: “Tatkala kafilah itu telah ke luar (dari negeri Mesir) berkata ayah mereka: "Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku)". (Q.S. Yusuf: 94)

2.    Al-sam’u (alat pendengaran) penyebutan alat ini dihubungkan dengan penglihatan dan qalbu dengan saling melengkapi untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Misalnya dalam ayat:
ثُمَّ سَوَّىٰهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِۦۖ وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَٱلۡأَفۡ‍ِٔدَةَۚ قَلِيلٗا مَّا تَشۡكُرُونَ ٩
Artinya: “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” (Q.S. Al-Sajdah: 9)

3.    Al-abshar (alat penglihatan), banyak ayat al-Qur’an yang menyeru manusia untuk melihat dan merenungkan apa saja yang dilihatnya, hingga mencapai hakikatnya: sebagaimana firman Allah:
أَوَ لَمۡ يَرَوۡاْ أَنَّا نَسُوقُ ٱلۡمَآءَ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ٱلۡجُرُزِ فَنُخۡرِجُ بِهِۦ زَرۡعٗا تَأۡكُلُ مِنۡهُ أَنۡعَٰمُهُمۡ وَأَنفُسُهُمۡۚ أَفَلَا يُبۡصِرُونَ ٢٧
Artinya: “dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanaman yang daripadanya makan hewan ternak mereka dan mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak memperhatikan.” (Q.S. al-Sajdah: 27)

4.    Al-‘aql (akal atau daya pikir) yaitu al-qur’an memberikan perhatian khusus terhadap penggunaan akal dalam berpikir, karena penggunaan akal memugkinkan diri manusia untuk terus ingat (dzikir) dan memikirkan/merenungkan ciptaan-Nya untuk dapat ,mengetahui tanda-tanda kebesaran/ keagungan Allah. Sebagaimana firmanNya:
۞أَفَمَن يَعۡلَمُ أَنَّمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَ ٱلۡحَقُّ كَمَنۡ هُوَ أَعۡمَىٰٓۚ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ١٩
Artinya: Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.” (Q.S. ar-Ra’d: 19)

5.    Al-qalb (kalbu), hal ini termasuk alat ma’rifah yang digunakan manusia untuk dapat mencapai ilmu. Kalbu mempunyai kedudukan khusus dalam ma’rifah ilahiyah (pengetahuan ketuhanan), dengan kalbu manusia dapat meraih berbagai ilmu serta ma’rifah yang diserap dari sumber ilahi.  Dan wahyu ke dalam kalbu Nabi Muhammad saw.[35]  Sebagaimana firman-Nya:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَ أَمۡ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقۡفَالُهَآ ٢٤
Artinya: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci.” (Q.S. Muhammad: 24)

Alat-alat potensial tersebut diatas merupakan alat potensial yang dimiliki maanusia, yang selanjutnya dikembangkan sesuai dengan kemampuannya dan didasari atas keinginan Allah, yaitu menjadi hamba Allah yang bertakwa kepada Allah dengan memanfaatkan alat potensialnya.

Manusia dalam Kaitannya dengan Pendidikan Islam
Manusia dilahirkan disertai dengan potensinya, tetapi perlu adanya pendidikan untuk mengembangankan potensi yang dimilikinya. Manusia memiliki kewajiban untuk mengembangkan potensinya dengan baik, sebab itu merupakan tanggung jawab manusia kepada Allah. Pengembangan potensi tersebut dengan kemungkinan manusia itu di didik dan bisa juga untuk mendidik.[36]
Adanya fitrah atau potensi dalam diri manusia dapat membantu perkembangan manusia lebih baik dan agamis melalui pendidikan. Islam mewajibkan manusia untuk belajar, dan belajar pada masa saat ini melalui pendidikan. Pendidikan merupakan kebutuhan manusia yang harus dipenuhi, demi mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Sehingga manusia memiliki berbagai keilmuan yang bisa dijadikan bekal untuk menjalani kehidupan yang beriman, dan bertakwa kepada Allah.[37]
Allah memberikan potensi atau fitrah dalam diri manusia untuk membedakan manusia dengan yang lainnya, sehingga manusia dikatakan menjadi ciptaan Allah yang sempurna, memiliki akal untuk berpikir atas segala sesuatu yang telah Allah ciptakan dan memiliki sebagian dari safat-sifat Allah seperti ar-rahmān, ar-rahīm,al-‘alīm, al-ghafūr, al-lathīf, al-qadīr, al-‘adl, dan al-hadī.
Sifat-sifat Allah yang sebagai dimiliki oleh manusia seperti di atas harus dikembangkan oleh manusia dan diterapkan dalam kehidupannya baik pada saat sendiri maupun ketika bersama dengan orang lain. Sebab kemuliaan manusia di sisi Allah dilihat dari segi kualitasnya dalam mengembangkan sifat-sifat Allah yang ada pada diri manusia, dan kemuliaan itu tidak dilihat dari materi yang dimiliki, dan fisik yang ada pada dirinya.[38]
Selain itu, manusia juga memiliki fitrah yang harus dikembangkan melalui pendidikan Islam, sebagaimana berikut:
No.
Fitrah Manusia
Pengembangan dalam Pendidikan Islam
1
Fitrah beragama
Fitrah beragama menjadi titik sentral dalam kehidupan manusia, sehingga sangat penting untuk dikembangkan dengan benar. Adanya pendidikan Islam dapat membawa perubahan kepada manusia agar bisa tunduk dan patuh kepada Allah sebagai Tuhannya melalui ibadah-ibadah yang bisa dilakukan dalam kesehariannya. Ibadah bisa dilakukan oleh siapa saja, tetapi jika tanpa ilmunya maka ibadah itu akan sia-sia. Sehingga dalam pendidikan Islam, manusia diajarkan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan keagamaan atau tentang ibadah kepada Allah, mulai dari yang sangat mendasar sampai pada yang urgen. Jika melihat pendidikan Islam seperti madrasah, maka didalamnya diajarkan fiqih, aqidah dak akhlak, tasawuf, sejarah Islam dan al-qur’an hadits. Lebih lagi pada pondok pesantren yang memang mengajar tentang agama Islam, sehingga isi pelajaran tentang keislamannya lebih banyak dari pada sekolah/madrasah.
2
Fitrah berakal budi
Pendidikan memiliki peranan penting untuk mengembangkan daya berpikir yang baik pada manusia yang dapat menimbulkan dzikir-dzikir untuk mengingat Allah melalui ciptaan-Nya, sehingga manusia juga bisa berbudaya dan berkarya dengan pengetahuan yang diperolehnya melalui pendidikan.
3
Fitrah bermoral dan berakhlak
Pendidikan juga berperan penting untuk menumbuhkembangkan moral dan akhlak manusia. Jika melihat dari segi pendidikan keluarga, orangtua terus melatih anaknya untuk bersikap yang baik, adil, jujur dan lain sebagainya. Hal itu dikuatkan dengan pendidikan Islam seperti madrasah dan pondok pesantren, lembaga tersebut memiliki aturan dan budaya Islami yang harus ditaati oleh murid/santri. Tanpa adanya pendidikan Islam, maka sulit untuk mengembangkan fitrah bermoral dan berakhlak yang memang manusia seharusnya memiliki terhadap moral dan akhlak yang baik.
4
Fitrah kebersihan dan kesucian
Dalam pendidikan Islam baik madrasah maupun pondok pesantren diajarkan tentang kebersihan dan kesucian melalui pembelajaran materi fiqih, atau aturan-aturan yang berlaku pada masing-masing lembaga pendidikan Islam. Hal itu menjadi dasar manusia untuk selalu menjaga kebersihan dan kesucian yang dibawanya sejak lahir.
5
Fitrah kebenaran dan keadilan
Pendidikan juga perlu mengembangkan fitrah kebenaran dan keadilan yang dimiliki oleh manusia, sehingga manusia bisa bersikap benar dan adil. Bersikap benar dan adil harus ada dasar pengetahuannya, dan dasar pengetahuan tersebut bisa diperoleh dari belajar di pendidikan Islam atau berdasarkan pada pengalaman dari orang-orang yang sudah menguasai ilmu melalui pendidikan.
6
Fitrah kemerdekaan
Pendidikan Islam mengajarkan manusia untuk bersikap bebas dan merdeka, dalam artian dengan belajar melalui pendidikan Islam, manusia dapat bebas dari belenggu-belenggu yang mengganggu kehidupannya dan terbebas dari tekanan sesuatu yang menimpa dirinya.
7
Fitrah persamaan dan persatuan
Pendidikan Islam juga mengajarkan bahwa keberagaman bernilai sama dihadapan Allah, sehingga manusia dianjurkan menegakkan persatuan dalam persamaan, meski berbeda dari segi ras, budaya dan bahasa.
8
Fitrah individu
Melalui pendidikan Islam, manusia juga diajarkan untuk mandiri atas semua tugasnya, memiliki tanggung jawab terhadap segala sesuatu yang dilakukan, mempertahankan apa yang menjadi haknya, dan diajari juga bagaimana menjaga keselamatan dan apa yang dimilikinya.
9
Fitrah seksual
Dalam pendidikan Islam murid/santri diajari yang berkaitan dengan seksualitas, sehingga dapat menjaga dirinya dari godaan yang dapat menjatuhkan dirinya dalam kesalahan. Seksualitas diajarkan sebagai pengetahuan untuk masa depannya, untuk memperoleh keturunan yang iman dan taqwa kepada Allah, sehingga bisa meneruskan apa yang sudah dipelajarinya mulai dari sejak kecil.
10
Fitrah ekonomi
Pendidikan Islam juga memperhatikan tentang ekonomi, sehingga manusia dapat mengembangkan fitrah ekonominya melalui pendidikan Islam yang menjadi dasar dan panduan untuk perkembangan prekonomian dan kebutuhan dalam kehidupnnya.
11
Fitrah politik
Pendidikan Islam juga mengajarkan tentang politik sebagai sarana pengembangan fitrah politik yang dimiliki oleh manusia. Politik yang diajarkan tentunya berlandasan pada al-Qur’an dan Hadits, serta hukum yang berlaku di suatu tempat. Melalui pendidikan, manusia dapat mengembangkan dan menerapkan politiknya dengan baik dan benar.
12
Fitrah seni
Manusia menyukai keindahan, karena di dalam dirinya ada fitrah seni. Pendidikan Islam mengajarkan seni sebagai dasar pengetahuan manusia, sehingga manusia dapat mengembangkan fitrah seninya. Dalam ajaran Islam terdapat banyak ajaran seni, salah satunya dalam mempelajari al-Qur’an yaitu seni keindahan suara, dalam pelafadzan huruf-huruf al-Qur’an dan lain sebagainya.

Oleh sebab itulah, pendidikan memiliki peranan efektif untuk mengembangkan potensi dalam diri manusia, tetapi hal itu juga dipengaruhi oleh lingkungan dan didukung oleh faktor bawaan sejak lahir. Tujuan pendidikan untuk membina kepribadian manusia secara sempurna. Pendidikan juga dianggap sebagai transfer kebudayaan, dan pengembangan ilmu pengetahuan akan membawa manusia mengerti dan memahami lebih luas tentang suatu keilmuan.[39]
Pendidikan menjadi titik perhatian dengan memberikan bantuan kepada para pelajar untuk menilai alternatif dan menyeleksi mana yang baik dan yang tiddak baik. Pendidikan bukan suatu proses pemaksaan dari seorang pendidik untuk menentukan setiap langkah yang harus diterima oleh anak didik secara individual. Karena pendidikan lebih menekankan pada bimbingan yang menjadi karakteristik pendidikan itu sendiri.[40]
Manurut Abuddin Nata adanya potensi manusia sangat membantu dalam merumuskan berbagai komponen pendidikan, atau dapat dijadikan dasar dalam merumuskan berbagai kebijakan dalam bidang pendidikan, terutama dalam perumusan visi, misi, tujuan dan hakikat pendidikan, kurikulum dan materi pendidikan, proses belajar mengajar, kompetensi tenaga pendidik, dan peserta didik.[41]
Proses pendidikan merupakan rangkaian yang tak terpisahkan dari proses penciptaan alam semesta dalam kaitannya dengan proses penciptaan manusia.  Dalam konteks pendidikan, secara garis besar pandangan kemanusiaan mengandung tiga implikasi dasar. Pertama, berkaitan dengan visi dan orientasi pendidikan di masa depan. Kedua, pada tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan Islam di masa depan di arahkan pada pencapaian pertumbuhan kepribadian manusia secara seimbang. Ketiga, pada muatan materi dan metodologi pendidikan karena manusia diakui mempunyai banyak potensi dasar, oleh karena itu muatan materi pendidikan harus dapat meliputi seluruh potensi yang dimiliki oleh manusia.[42]
Pendidikan Islam sangat memiliki peranan penting dalam mengembangkan potensi atau fitrah yang dimiliki manusia, perkembangan fitrah manusia melalui pendidikan Islam membawakan perbedaan terhadap perjalanan manusia itu sendiri. Manusia sebagai hamba Allah, tentunya harus memahami terhadap apa saja yang berkaitan dengan nilai-nilai dan ilmu pengetahuan untuk beribadah kepada Allah. Sehingga manusia harus mengembangkan fitrah beragamanya dengan baik. Selain itu juga, manusia harus megembangkan fitrah persamaan dan persatuan, fitrah kemerdekaan, fitrah individu, dan fitrah politik sebagai dasar manusia menjadi khalifah di muka bumi yang mengembang amanah untuk melindungi dan mensejahterakan bumi Allah.

Penutup
Manusia diciptakan oleh Allah yang memiliki karakteristik dan keunikah yang dilengkapi dengan akal pikiran. Sehingga manusia dinyatakan sebagai ciptaan Allah dalam bentuk sebaik-baiknya. manusia diciptakan dari sari pati, kemudian menjadi air mani, selanjutnya menjadi segumpal darah, dari segumpal dari menjadi segumpal daging, setelah itu menjadi tulang-belulang yang dibungkus dengan daging. Setelah itu, Allah menjadikan bentuk yang sempurna yang selanjutnya ditiup ruh ke dalam danin. Manusia lahir ke dunia dalam keadaan suci, yang juga disertai dengan potensi-potensi yang Allah berikan. Manusia diciptakan sebagai hamba Allah dan sebagai khalifah di bumi.
Di dalam al-Qur’an terdapat lima kata yang digunakan, pertama: kata al-insān, memiliki arti lemah lembut, harmonis, tampak dan pelupa. Kata al-insan menunjukkan totulitas manusia sebagai makhluk jasmani dan ruhani. Kedua, kata al-ins manusia dalam konsep al-ins menjadi orang yang harus mengabdi kepada Allah. Dengan demikian, manusia dalam hidupnya diharapkan akan selalu menyadari hakikat tersebut. Ketiga, Kata al-nâs dipakai di dalam al-Qur’an untuk menunjuk komunitas manusia yang memiliki kesamaan potensi dasar sebagai hakikat manusia. Sehingga dalam hal ini, kata al-nâs dimaknai dengan pengertian manusia yang dipandang secara umum tanpa terkecuali. Keempat kata al-basyar, penamaan ini menunjukkan bahwa secara biologis yang mendominasi manusia adalah kulit, dibanding rambut atau bulunya. sehingga terlihat perbedaan secara umum biologis manusia dengan hewan, yang mana hewan lebih didominasi oleh bulu atau rambut. Kelima, Dalam al-Qur’an, Allah sering kali menyebut manusia dengan kata Bani Adam, dari sebagian ayat tersebut, kata Bani Adam dikonotasikan sebagai salah satu makhluk ciptaan Allah swt yang memiliki hubungan tidak hanya dengan sesama manusia, tetapi juga dengan makhluk yang lain seperti dengan jin, malaikat dan sebagainya.
Manusia sebagai khalifah di bumi, memiliki potensi yang diberikan Allah dan potensi itu disebut fitrah. Banya sekali fitrah manusia yang meliputi fitrah beragama, fitrah berakal budi, fitrah bermoral dan berakhlak, fitrah kebersihan dan kesucian, fitrah kebenaran, fitrah kemerdekaan, fitrah keadilan, fitrah persamaan dan persatuan, fitrah individu, fitrah sosial, fitrah seksual, fitrah ekonomi, fitrah politik, dan fitrah seni. Selain itu, juga ada alat potensial yang meliputi kemampuan al-lams dan al-syum (alat peraba dan pencium/pembau), al-sam’u (alat pendengar), al-abshar (alat penglihatan), al-‘aql (akal atau daya pikir), al-qalb (kalbu).
Dan jika di hubungkan dalam pendidikan Islam, maka diperlukan gambaran pendidikan pendidikan Islam mampu menjadi tempat dalam membangun masyarakat Islam yang sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keagamaan. Pendidikan Islam perlu didesain dengan baik, dan rapi. Sehingga mampu mengembangkan potensi yang dimiliki manusia. Fitrah atau potensi yang dimiliki manusia sangat perlu dikembangkan, dan pengembangan tersebut melalui pendidikan Islam agar lebih jelas dan terarah sesuai fitrah yang ada.

Daftar Pustaka
Abdullah, Abdurrahman Saleh. 2007. Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an. Terj. Arifin dan Zainuddin. Jakarta: Rineka Cipta.
Al-Syaibany, Omar Mohammad Al-Toumy. 1979. Falsafah Pendidikan Islam. Terj. Hasan Langgulung. Jakarta: Bulan Bintang.
Darwis, Djamaluddin. 2006. Dinamika Pendidikan Islam, Sejarah, Ragam dan Kelembagaan. Semarang: RaSAIL.
Daulay, Haidar Putra. 2014. Pendidikan Islam dan Perspektif Filsafat. Jakarta: Kencana.
Djumransyah, dan Abdul Malik Karim Amrullah. 2007. Pendidikan Islam: Menggali “Tradisi”, Meneguhkan Eksistensi. Malang: UIN-Maliki Press.
Haris, Abd., dan Kivah Aha Putra. 2012. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Amzah.
Hasbiyallah, dan Moh. Sulhan. 2015. Hadis Tarbawi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Jalaluddin, dan Abdullah Idi. 2009. Filsafat Pendidikan: Manusia, Filsafat dan Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Mahmud. 2011. Pemikiran Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia.
Muhaimin, Suti’ah, dan Nur Ali. 2012. Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Muhammad, Muhammad Thaib. 2016. “Kualitas Manusia dalam Pandangan Al-Qur’an.” Al-Mu’asyirah, Vol. 13 No. 1. http://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/almuashirah/article/viewFile/2348/1698 (diakses 9 Maret 2018).
Muhmidayeli. 2013. Filsafat Pendidikan. Bandung: PT Refika Aditama.
Nata, Abuddin. 2013. Pemikiran Pendidikan Islam dan Barat. Jakarta: Rajawali Pers.
Ramayulis, dan Samsul Nizar. 2009. Filsafat Pendidikan Islam: Telaah Sistem Pendidikan dan Pemikiran Para Tokohnya. Jakarta: Kalam Mulia.
Sada, Heru Juabdin. 2016. “Manusia dalam Perspektif Agama.” Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 7. http://ejournal.radenintan.ac.id/index.php/tadzkiyyah/article/viewFile/1498/1233 (diakses 9 Maret 2018).
Shihab, Quraish. 2013. Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Tematik atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: Mizan.
Siswanto. 2015. Filsafat dan Pemikiran Pendidikan Islam. Surabaya: Pena Salsabila.
Suharto, Toto. 2014. Filsafat Pendidikan Islam: Menguatkan Epistimologi Islam dalam Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Suhartono, Suparlan. 2008. Filsafat Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Tafsir, Ahmad. 2016. Filsafat Pendidikan Islam: Integrasi Jasmani, Rohani, dan Kalbu; Memanusiakan manusia. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Wiyani, Novan Ardy. dan Barnawi. 2012. Ilmu Pendidikan Islam: Rancang Bangun Konsep Pendidikan Monokotomik-Holistik. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Zaprulkhan. 2014. Filsafat Islam: Sebuah Kajian Tematik. Jakarta: Rajawali Pers.
Zuhairini. 2012. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.




[1] Penulis merupakan Mahasiswa Program Magister PAI Pascasarjana IAIN Madura Semester II Tahun 2018
[2] Novan Ardy Wiyani dan Barnawi, Ilmu Pendidikan Islam: Rancang Bangun Konsep Pendidikan Monokotomik-Holistik (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), 43.
[3] Suparlan Suhartono, Filsafat Pendidikan (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2008), 53.
[4] Abuddin Nata, Pemikiran Pendidikan Islam dan Barat (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), 75.
[5] Djamaluddin Darwis, Dinamika Pendidikan Islam, Sejarah, Ragam dan Kelembagaan (Semarang: RaSAIL, 2006), 123.
[6] Muhammad Thaib Muhammad, “Kualitas Manusia dalam Pandangan Al-Qur’an,” Al-Mu’asyirah, Vol. 13 No. 1 (2016), 4. http://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/almuashirah/article/viewFile/2348/1698 (diakses 9 Maret 2018).
[7] Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam: Menguatkan Epistimologi Islam dalam Pendidikan (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014), 68.
[8] Heru Juabdin Sada, “Manusia dalam Perspektif Agama,” Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 7 (2016), 132 http://ejournal.radenintan.ac.id/index.php/tadzkiyyah/article/viewFile/1498/1233 (diakses 9 Maret 2018). 132
[9] Siswanto, Filsafat dan Pemikiran Pendidikan Islam (Surabaya: Pena Salsabila, 2015), 31.
[10] Suharto, Filsafat Pendidikan Islam: Menguatkan Epistimologi Islam dalam Pendidikan, 69–70.
[11] Mahmud, Pemikiran Pendidikan Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2011), 67.
[12] Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, Terj. Hasan Langgulung (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), 103–61.
[13] Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Tematik atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 2013), 367.
[14] Wiyani dan Barnawi, Ilmu Pendidikan Islam: Rancang Bangun Konsep Pendidikan Monokotomik-Holistik, 45.
[15] Siswanto, Filsafat dan Pemikiran, 34.
[16] Wiyani dan Barnawi, Ilmu Pendidikan Islam: Rancang Bangun Konsep Pendidikan Monokotomik-Holistik, 46–48.
[17] Ramayulis dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: Telaah Sistem Pendidikan dan Pemikiran Para Tokohnya (Jakarta: Kalam Mulia, 2009), 53.
[18] Siswanto, Filsafat dan Pemikiran, 35.
[19] Ramayulis dan Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: Telaah Sistem Pendidikan dan Pemikiran Para Tokohnya, 54.
[20] Siswanto, Filsafat dan Pemikiran, 48.
[21] Muhmidayeli, Filsafat Pendidikan (Bandung: PT Refika Aditama, 2013), 50.
[22] Siswanto, Filsafat dan Pemikiran, 41.
[23] Abd. Haris dan Kivah Aha Putra, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Amzah, 2012), 82.
[24] Ibid., 83.
[25] Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam dan Perspektif Filsafat (Jakarta: Kencana, 2014), 43–44.
[26] Wiyani dan Barnawi, Ilmu Pendidikan Islam, 44.
[27] Siswanto, Filsafat dan Pemikiran, 32.
[28] Shihab, Wawasan Al-Qur’an, 368.
[29] Siswanto, Filsafat dan Pemikiran, 48.
[30] Ibid., 49
[31] Zaprulkhan, Filsafat Islam: Sebuah Kajian Tematik (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), 121.
[32] Hasbiyallah dan Moh. Sulhan, Hadis Tarbawi (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2015), 3.
[33] Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islam: Integrasi Jasmani, Rohani, dan Kalbu; Memanusiakan manusia (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2016), 23.
[34] Muhaimin, et.al, Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), 18.
[35] Ibid., 13
[36] Djumransyah dan Abdul Malik Karim Amrullah, Pendidikan Islam: Menggali “Tradisi”, Meneguhkan Eksistensi (Malang: UIN-Maliki Press, 2007), 43.
[37] Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), 98.
[38] Muhaimin, et.al, Paradigma Pendidikan Islam, 17.
[39] Jalaluddin dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan: Manusia, Filsafat dan Pendidikan (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2009), 133–34.
[40] Abdurrahman Saleh Abdullah, Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an, Terj. Arifin dan Zainuddin (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), 84.
[41] Nata, Pemikiran Pendidikan, 86.
[42] Siswanto, Filsafat dan Pemikiran, 62–63.

Komentar

Postingan Populer