FALSAFAH INSANIYAH - FILFASAT PENDIDIKAN ISLAM
FALSAFAH
INSANIYAH
DALAM
PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM
Abstrak: dalam al-Qur’an
kata yang memiliki makna manusia meliputi al-basyar, al-insān, al-ins,
al-nās, dan bani adam. Manusia makhluk ciptaan Allah yang terbaik, sebab Allah memberikan akal
pikiran yang dilengkapi dengan fitrah atau potensi yang memang harus dikembangkan oleh manusia itu
sendiri. Fitrah
tersebut dikembangkan melalui pendidikan Islam yang dapat memberikan perubahan
yang selaras dan terfokus pada masing-masing fitrah yang dimiliki manusia. Fitrah tersebut meliputi fitrah beragama,
berakal budi, bermoral dan berakhlak, kebersihan dan kesucian, kebenaran dan
keadilan, kemerdekaan, persamaan dan persatuan, individu, seksual, ekonomi dan
politik serta seni. Dari fitrah itulah yang selanjutnya pendidikan memiliki
peranan penting berkaitan dengan pengembangan diri manusia dari segi potensi
dan nalar pikirnya. Hal itu juga berkaitan dengan manusia yang menjadi hamba
Allah dan khalifah di muka bumi yang harus memiliki pengetahuan dan ilmu yang
dikembangkan dari potensi dasar manusia.
Kata kunci: falsafah
insaniyah, pendidikan islam
Pendahuluan
Manusia
merupakan makhluk ciptaan Allah yang memiliki karakteristik dan keunikan serta berpengetahuan
yang dapat membedakan dirinya dengan makhluk lainnya. Manusia diciptakan oleh
Allah dengan sebaik-baiknya ciptaan, diberikan akal pikiran untuk berpikir dan
memikirkan dirinya untuk apa diciptakan di muka bumi. Ditanamkan cinta di dalam
dirinya, agar bisa mencintai sesamanya dan mencintai Allah dan Rasulnya serta
dianjurkan oleh Allah untuk saling membantu sesamanya.
Al-quran telah banyak membahas tentang manusia,
diantaranya manusia merupakan ciptaan Allah yang sempurna dan merupakan
sebaik-baik cipataan Allah yang dilengkapi dengan akal dan pikiran.[2] Hal itu
didasari oleh firman Allah dalam Q.S. al-Tîn ayat 4 sebagai berikut:
لَقَدۡ خَلَقۡنَا
ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ ٤
Artinya: “sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia
dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
Ayat
diatas sangat jelas, bahwa manusia diciptakan dengan bektuk yang baik.
Penciptaan manusia yang baik bukan hanya terletak dari segi fisiknya, tetapi
juga kesucian dirinya dari segala macam hal. Manusia miliki fitrah yang dibawa
sejak lahir ke dunia, fitrah itulah yang dapat dikembangan oleh manusia dengan
berbagai cara dan pengetahuan.
Manusia
memiliki potensi yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia, dengan
potensi itu manusi terdorong untuk ingin tahu dan bahkan mendapatkan nilai
kebenaran, keindahan, dan kebaikan yang ada di dalam segala susatu yang nyata.[3] Adanya
potensi di dalam diri manusia menjadi suatu kepemilikan yang harus dikembangkan
oleh manusia itu sendiri, potensi yang dikembangkan akan memperbaiki
kehidupannya menjadi lebih baik dengan diperolehnya pengetahuan yang benar. Manusia
sejak lahir sudah terlibat di dalam kegiatan pendidikan, sehingga dikatakan
bahwa manusia sangat erat kaitannya dengan pendidikan. Pendidikan sangat
membantu terhadap pertumbuhan dan perkembangan manusia manuju ke arah yang
lebih sempurna.
Melalui
kegiatan pendidikan dan pembelajaran, manusia mendapatkan ilmu pengetahuan yang
erat dengan nilai kebenaran baik bersifat universal, abstrak, teoritis, maupun
praktis. Adanya nilai kebenaran inilah yang mendorong tebentuknya sikap dan
perilaku yang arif dan berkeadilan. Sikap seperti itulah yang akan menjadi
dasar bagi manusia untuk membangun kebudayaan dan peradaban. Terbentuknya
kebudayaan yang sifatnya material maupun spiritual merupakan upaya manusia
untuk mengubah dan membangun hubungan manusia yang berimbang kepada sesama
manusia maupun kepada Allah Swt.[4]
Manusia
yang mengembangkan dirinya melalui pendidikan, tentu akan memiliki perbedaan
dengan yang lainnya. tulisan ini akan membahas berkenaan dengan konsep manusia
dalam al-qur’an, penciptaan manusia dan kedudukannya di dunia, potensi yang
dimiliki oleh manusia, dan manusia dalam kaitannya dengan pendidikan Islam.
Penciptaan
Manusia dan Kedudukannya di Dunia
Manusia
diciptakan oleh Allah dengan maksud dan tujuan tertentu. Manusia menjadi
makhluk yang unik dan memiliki daya pikir yang tidak dimiliki oleh ciptaan
Allah yang lainnya. Allah menciptakan manusia dari tanah dan akan kembali lagi
ke tanah sebagai tempat jasad yang terahir. Proses penciptaan manusia melalui
beberapa fase, dan fase-fase tersebut dijelaskan dalam Q.S. al-Mukminun ayat
12-16 sebagai berikut:
وَلَقَدۡ
خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ مِن سُلَٰلَةٖ مِّن طِينٖ ١٢ ثُمَّ جَعَلۡنَٰهُ نُطۡفَةٗ فِي قَرَارٖ مَّكِينٖ
١٣ ثُمَّ خَلَقۡنَا ٱلنُّطۡفَةَ عَلَقَةٗ فَخَلَقۡنَا ٱلۡعَلَقَةَ مُضۡغَةٗ فَخَلَقۡنَا
ٱلۡمُضۡغَةَ عِظَٰمٗا فَكَسَوۡنَا ٱلۡعِظَٰمَ لَحۡمٗا ثُمَّ أَنشَأۡنَٰهُ خَلۡقًا ءَاخَرَۚ
فَتَبَارَكَ ٱللَّهُ أَحۡسَنُ ٱلۡخَٰلِقِينَ ١٤ ثُمَّ إِنَّكُم بَعۡدَ ذَٰلِكَ لَمَيِّتُونَ
١٥ ثُمَّ إِنَّكُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ تُبۡعَثُونَ
١٦
Artinya: “Dan
sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari
tanah (12), Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam
tempat yang kokoh (rahim) (13), Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal
darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal
daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus
dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka
Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. (14), Kemudian, sesudah itu,
sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. (15), Kemudian, sesungguhnya
kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat. (16) (Q.S.
al-Mukminun: 12-16)
Berdasarkan
ayat di atas dapat diketahui bahwa manusia diciptakan dari sari pati yang
berasal dari tanah, yang kemudian Allah menjadikan sari pati tersebut menjadi
air mani yang tersimpan di rahim wanita. Selama di dalam rahim, Allah
menunjukkan kekuasaanya dengan mengubah air mani menjadi segumpal daging dan
kemudian daging tersebut manjadi tulang-belulang yang pada akhirnya dibungkus
dengan daging lagi. Selanjutnya Allah menjadikan hal itu berbentuk makhluk yang
wujudnya manusia seperti sekarang ini.
Setelah
Allah menyempurnakan bentuk ciptaannya, kemudian Allah meniupkan ruh ke dalam
jasad bayi tersebut dan Allah memerintahkan malaikat untuk tunduk
menghormatinya. Tetapi ketika manusia sudah hidup di muka bumi, sering kali terdapat
permasalahan yang dilakukan baik terhadap sesama atau terhadap sang pencipta.
Darwis menyatakan bahwa terdapat tiga hal yang dijumpai dalam kehidupan
manusia, yaitu:
1.
Allah meniupkan ruh ke dalam diri
manusia sebagai ruh ilâhiyah. Sehingga manusia memiliki potensi untuk
mengetahui nilai kebaikan dan memiliki kemampuan yang dapat dikembangkan dalam
pendidikan. sehingga manusia menjadi makhluk Allah yang tinggi derajatnya
dibandingkan dengan makhluk lainnya, hal itu dikatakan sebagai sesuatu yang
positif dalam diri manusia.
2.
Terdpat manusia yang memiliki
sifat sombong dan serakah, dan sifat itu merupakan sifat syaitan. Apabila
manusia bersikap demikian, maka manusia tersebut dikategorikan manusia yang
merugi, dan hal itu menjadi sesuatu yang negatif dalam diri manusia.
3.
Sifat nafsu jahat akan menyentuh
manusia dalam kepentingan kepuasan secara lahiriyah, sehingga manusia lupa atas
keinginan Allah dalam menciptakan manusia.[5]
Manusia
dalam al-Qur’an sering kali mendapat dari Allah, sebagaimana yang sudah
terdapat di dalam firman-Nya bahwa manusia diciptakan dalam bentuk dan keadaan
yang sebaik-baiknya. Disamping itu, sering pula manusia mendapat celaan dari
Allah, seperti halnya manusia itu serigkali ingkar, berkeluh kesah dan bersifat
kikir.[6] Hal ini
berkaitan dengan tiga hal tersebut di atas, orang yang memanfaatkan potensinya
untuk kebaikan, untuk beribadah kepada Allah, maka dia termasuk orang yang
dipuji oleh Allah. Sedangkan orang yang sombong, orang yang angkuh, orang yang
serakah dan hanya mengandalkan hawa nafsunya semata, maka dia termasuk pada
orang yang di cela oleh Allah, dan akan mendapatkan balasan dari Allah.
Diciptakannya
manusia di bumi, memiliki tujuan tertentu sebagaimana Allah menjelaskan di
dalam al-Qur’an bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah, sebagaimana
firman Allah sebagai berikut:
وَمَا
خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦
Artinya: “Dan
aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi
kepada-Ku.” (Q.S. al-Dzariyat : 56)
Tujuan
hidup manusia pada akhirnya akan berkaitan dengan tujuan pendidikan Islam,
sebab pendidikan Islam pada dasarnya memiliki tujuan untuk memelihara kehidupan
manusia. Tujuan pendidikan manusia harus berkaitan erat dengan tujuan hidup
manusia dan tujuan diciptakannya manusia oleh Allah.[7] Allah
menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya dengan penuh ketakwaan dan
keikhlasan, sebab yang bertakwa dan yang ikhlak dalam beridah tentu akan
menjadi kekasih Allah.
Manusia
diciptakan oleh Allah untuk mengimplementasikan tugas-tugas ilahiyah yang
mengandung banyak kemaslahatan dalam kehidupan, manusia membawa amanah dari
Allah yang mesti diterapkan dalam kehidupan nyata. Sehingga keberadaan manusia
di dunia memiliki tugas yang mulia, yaitu sebagai khalifah.[8]
Manusia
diciptakan oleh Allah tidak hanya memiliki tujuan saja, tetapi juga sebagai hamba
Allah (‘abd Allah) yang memiliki peranan penting untuk melayani Tuhannya
sekaligus dijadikan sebagai khalifah di bumi.[9] Kekhalifahan
umat manusia di bumi ditegaskan dengan adanya firman Alah sebagai berikut:
وَإِذۡ
قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ قَالُوٓاْ
أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ
بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٣٠
Artinya: Ingatlah
ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat
kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih
dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman:
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". (Q.S.
al-Baqarah : 30)
Dalam
suatu kedudukan manusia, khalifah diartikan sebagai pengganti. Manusia
selaku khalifah di bumi memiliki beberapa karakteristik, sebagaimana
disampaikan oleh Hasan Langgulung yang dikutip oleh Suharto, sebagai berikut:
a.
Manusia diciptakan oleh Allah
dalam keadaan suci sejak dia lahir, dan tidak ada dosa sedikitpun.
b.
Adanya interaksi antara badan dan
ruh dapat menghasilkan khalifah, sehingga dapat membedakan dengan
makhluk yang lain.
c.
Manusia memiliki kebebasan untuk
menentukan pola tingkah lakunya sendiri.
Dari
karakteristik tersebut dapat dipahami, bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan
suci tanpa ada dosa sedikitpun. Kekhalifahan yang dimiliki oleh setiap
manusia berdasarkan adanya interaksi anatar badan dengan ruh manusia, keduanya
saling keterkaitan dan saling berhubungan. Pola tingkah laku yang dihasilkan
oleh manusia desebabkan karena adanya kebebasan yang dimiliki oleh manusia, dan
itu menunjukkan bahwa manusia memang memiliki keistimewaan dari pada yang lain.
Keistimewaan itu juga dikaitan dengan akal pikiran manusia, jika manusia yang
memiliki akal pikir tersebut memanfaatkan dengan membawa dirinya bertakwa
kepada Allah, tentu dia akan sangat istimewa dihadapan Allah.
Konsep Manusia
dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an
yang menjadi pedoman bagi setiap kehidupan manusia banyak menjelaskan tentang
konsep manusia. Muin Salim menyatakan sebagaimana di kutip oleh Mahmud, bahwa
dalam memahami konsep manusia dapat menggunakan dua cara, yaitu: pertama,
dengan menelusuri kata-kata yang digunakan dalam al-Qura’an yang memiliki makna
manusia. Kedua, dapat mencari ayat-ayat al-Qur;an yang berhubungan
dengan potensi yang dimiliki oleh manusia.[11] Kedua cara
tersebut dapat digunakan dalam
mengetahui sebanarnya untuk apa manusia diciptakan dan melihat potensi-potensi
yang dimiliki oleh manusia. Dengan menelusuri kata-kata yang digunakan di dalam
al-Qur’an, akan menghasilkan banyak pengetahuan, peringatan, pujian, dan ancaman.
Sebelum
lebih jauh mengetahui tentang konsep manusia, Al-syaibany mengemukakan delapan
prinsip yang menjadi dasar pandangan Islam terhadap manusia, yaitu:
1.
Manusia merupakan makhluk paling
mulia yang dianugerahkan keistimewaan oleh Allah Swt.
2.
Atas dasar kemuliaan itu
diberikan amanah kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi atas tujuan untuk
mamakmurkan bumi dengan dasar ibadah dengan penuh ketakwaan kepada Allah.
3.
Manusia sebagai makhluk sosial
yang menggunakan bahasa sebagai media untuk mengutarakan pemikirannya.
4.
Manusia dinyatakan sebagai makhluk
tiga dimensi yang meliputi badan, akal, dan ruh.
5.
Pertumbuhan dan perkembangan
manusia merupakan hasil dari faktor warisan/katurunan dan lingkungan.
6.
Manusia memiliki kebutuhan dan
motivasi yang dihasilkan dari sendiri dan berdasarkan interaksi.
7.
Secara individu, manusia memiliki
perbedaan yang dihasilkan dari proses keturunan dan lingkungan.
8.
Manusia memiliki sifat luwes dan
berubah-ubah yang dihasilkan dari interaksi sosial dalam lingukangan dan
melalui pendidikan.[12]
Delapan
prinsip tersebut merupakan pandangan bahwa manusia ciptaan Allah adalah ciptaan
termulia dengan berbagai kemampuan akal pikiran yang dianugerahkan oleh Allah. Selain
itu, terdapat tiga kata yang digunakan di dalam al-Qur’an sebagaimana
dinyatakan oleh Quraish Shihab di dalam bukunya, yaitu:
1.
Menggunakan kata yang terdiri
dari huruf alif, nun, dan sin, seperti insân, ins, nâs,
atau unâs dan al-nâs.
2.
Menggunakan kata basyar
Kata-kata
tersebut di atas memiliki sama memiliki makna manusia, tetapi terdapat
penekanan yang berbeda dari masing-masing kata tersebut. Hal itu dapat
diketahui dan dipahami sebagaimana uraian berikut:
1.
Kata al-insân
Kata al-insân berasal dari kata
al-uns yang berarti lemah lembut, harmonis, tampak atau pelupa. Kata al-insân
dinyatakan di dalam al-Qur’an sebanyak 73 kali dan tersebar dalam 43 surah.
Kata al-insân yang digunakan dalam al-Qur’an untuk menunjukkan totalitas
manusia sebagai makhluk yang terdiri dari jasmani dan rohani.[14]
Manusia merupakan makhluk yang
memiliki keistemewaan, sehingga berbeda dengan makhluk lainnya. Manusia
memiliki dimensi fisik yang sempurna, dan dimensi ruh yang dilengkapi dengan
segala potensi. Potensi manusia dapat dilihat dari dua aspek, yaitu diketahui
dari kata al-basyar untuk mengetahui potensi jasmani dan untuk
mengetahui potensi rohani dilihat dari kata al-insân.
Kata al-insân digunakan
al-Qur’an untuk menunjukkan totalitas manusia sebagai makhluk jasmani dan
rohani. Harmonisasi kedua aspek tersebut mengantar manusia sebagai makhluk
Allah yang unik, istimewa, sempurna dan memiliki diferensiasi individu antara
yang satu dengan yang lainnya, dan sebagai makhluk yang dinamis, sehingga mampu
menyandang predikat khalifah di bumi. [15]
Pada beberapa ayat, Allah menyandingkan
kata al-insân dengan kata syaitan. Ayat tersebut tentunya
memberikan peringatan dan penyadaran kepada kita semua, agar kita senantiasa
berada dalam posisi yang fitrah sesuai dengan keinginan Allah Swt. Dalam hal
ini, Allah berfirman dalam surah Yusuf ayat 5 dan juga di surah al-Isra’ ayat
53.
قَالَ
يَٰبُنَيَّ لَا تَقۡصُصۡ رُءۡيَاكَ عَلَىٰٓ إِخۡوَتِكَ فَيَكِيدُواْ لَكَ كَيۡدًاۖ
إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ لِلۡإِنسَٰنِ عَدُوّٞ مُّبِينٞ ٥
Artinya:
Ayahnya berkata: "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada
saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu.
Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia" (Q.S. Yusuf
: 5)
وَقُل
لِّعِبَادِي يَقُولُواْ ٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ يَنزَغُ بَيۡنَهُمۡۚ
إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ كَانَ لِلۡإِنسَٰنِ عَدُوّٗا مُّبِينٗا ٥٣
Artinya:
Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan
perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan
perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata
bagi manusia. (Q.S. al-Isra’ : 53)
Kedua ayat tersebut sangat jelas,
bahwa manusia seringkali digoda oleh syaitan. Syaitan mendekati manusia dengan
berbagai cara untuk menjerumuskan manusia kepada jalan yang sesat. Adanya ayat
al-Qur’an yang menyandingkan kata al-insân dengan kata syaitan,
memberikan peringatan bagi kita semua agar selalu berhati-hati dalam segala
hal, baik dalam perkataan, perbuatan, atau pengambilan keputusan. Sebab sangat
jelas sekali bahwa syaitan adalah musuh yang nyata bagi manusia.
Kata al-insân juga menjelaskan
sifat umum serta kelebihan dan kelemahan manusia[16] antara lain
sebagai berikut:
a.
Semua keinginan manusia belum
tentu berhasil diraih semuanya, apabila Allah tidak menginginkannya. Allah
berfirman:
أَمۡ لِلۡإِنسَٰنِ
مَا تَمَنَّىٰ ٢٤ فَلِلَّهِ ٱلۡأٓخِرَةُ وَٱلۡأُولَىٰ ٢٥
Artinya: Atau apakah manusia akan mendapat segala yang
dicita-citakannya. (Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan
kehidupan dunia. (Q.S. an-Najm: 24-25)
b.
Gembira bila dapat nikmat dan
susah bila mendapatkan cobaan. Allah berfirman:
فَإِنۡ أَعۡرَضُواْ فَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ
عَلَيۡهِمۡ حَفِيظًاۖ إِنۡ عَلَيۡكَ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُۗ وَإِنَّآ إِذَآ أَذَقۡنَا
ٱلۡإِنسَٰنَ مِنَّا رَحۡمَةٗ فَرِحَ بِهَاۖ وَإِن تُصِبۡهُمۡ سَيِّئَةُۢ بِمَا قَدَّمَتۡ
أَيۡدِيهِمۡ فَإِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ كَفُورٞ ٤٨
Artinya: Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus
kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan
(risalah). Sesungguhnya apabila Kami merasakan kepada manusia sesuatu rahmat
dari Kami dia bergembira ria karena rahmat itu. Dan jika mereka ditimpa
kesusahan disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri (niscaya mereka ingkar)
karena sesungguhnya manusia itu amat ingkar (kepada nikmat). (Q.S. al-Syurâ:
48)
c.
Manusia sering bertindak bodoh
dan zalim, baik kepada dirinya sendiri maupun kepada orang lain. Allah
berfirman:
إِنَّا عَرَضۡنَا ٱلۡأَمَانَةَ
عَلَى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱلۡجِبَالِ فَأَبَيۡنَ أَن يَحۡمِلۡنَهَا وَأَشۡفَقۡنَ
مِنۡهَا وَحَمَلَهَا ٱلۡإِنسَٰنُۖ إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومٗا جَهُولٗا ٧٢
Artinya: Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat
kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul
amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu
oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. (Q.S. al-Ahzâb:
72)
d.
Manusia sering lagu dalam
merumuskan suatu perkara. Allah berfirman:
وَيَقُولُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَءِذَا
مَا مِتُّ لَسَوۡفَ أُخۡرَجُ حَيًّا ٦٦ أَوَ لَا يَذۡكُرُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَنَّا خَلَقۡنَٰهُ
مِن قَبۡلُ وَلَمۡ يَكُ شَيۡٔٗا ٦٧
Artinya: Dan berkata manusia: "Betulkah apabila aku
telah mati, bahwa aku sungguh-sungguh akan dibangkitkan menjadi hidup kembali?.
Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah
menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali. (Q.S. Maryam: 66-67)
e.
Manusia sering kali lupa diri dan
bersifat kikir bila mendapat suatu kenikmatan. Allah berfirman:
قُل لَّوۡ أَنتُمۡ تَمۡلِكُونَ
خَزَآئِنَ رَحۡمَةِ رَبِّيٓ إِذٗا لَّأَمۡسَكۡتُمۡ خَشۡيَةَ ٱلۡإِنفَاقِۚ وَكَانَ
ٱلۡإِنسَٰنُ قَتُورٗا ١٠٠
Artinya: Katakanlah: "Kalau seandainya kamu
menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan
itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya". Dan adalah manusia itu
sangat kikir. (Q.S. al-Isra’: 100)
f.
Manusia adalah makhluk yang lemah,
gelisah, dan tergesa-gesa. Allah berfirman:
يُرِيدُ
ٱللَّهُ أَن يُخَفِّفَ عَنكُمۡۚ وَخُلِقَ ٱلۡإِنسَٰنُ ضَعِيفٗا ٢٨
Artinya: Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan
manusia dijadikan bersifat lemah. (Q.S. al-Nisa’: 28)
Kata al-insân
memiliki kandungan makna kesempurnaan yang sesuai dengan tujuan penciptaan
manusia dengan keunikan sebagai makhluk Allah yang ditinggikan derajatnya dari
pada makhluk yang lain. Manusia diciptakan memiliki kelebihan dan keistimewaan,
selain itu manusia juga memiliki keterbatasan, tergesa-gesa, resah, dan
gelisah.[17] Sehingga
manusia sering kali lalai dan melupakan nilai insaniyah yang dimilikinya
dengan membuat kerusakan di bumi.[18]
Dari pemaknaan
manusia dari kata al-insân, diketahui bahwa manusia merupakan makhluk
Allah yang memiliki sifat-sifat manusiawi yang bernilai positif dan negatif.
Sehingga manusia bisa selamat dan mampu memfungsikan dirinya dengan
melaksanakan tugas yang sudah diamanahkan oleh Allah dan memanfaatkan
kedudukannya di bumi dengan senantiasa melakukan aktivitas yang baik sesuai
dengan nilai ajaran Islam.[19] Manusia harus
memfungsikan dirinya sebagai hamba Allah yang selalu mekukan aktivitas yang
bernilai ibadah sesuai dengan tuntunan Islam.
2.
Kata al-ins
Kata al-ins
di dalam al-qur’an diketahui bahwa manusia selalu berkaitan dengan al-jin. Allah
berfirman:
يَٰمَعۡشَرَ
ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ إِنِ ٱسۡتَطَعۡتُمۡ أَن تَنفُذُواْ مِنۡ أَقۡطَارِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ
وَٱلۡأَرۡضِ فَٱنفُذُواْۚ لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلۡطَٰنٖ ٣٣
Artinya: “Hai jama´ah jin dan manusia, jika kamu sanggup
menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat
menembusnya kecuali dengan kekuatan.” (Q.S. ar-Rahman: 33)
Ayat tersebut
diatas menjelaskan bahwa manusia dan jin memiliki tantangan untuk menembus
penjuru langin dan bumi. Selain itu juga terdapat makna yang meliki tujuan
beribadah kepada Allah. Hal itu juga berkaitan dengan jin yang penciptaannya
memiliki tujuan yang sama dengan manusia. Allah Swt. berfirman:
وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ
إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦
Artinya: “dan aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Q.S. al-Dzariyyat: 56)
Berdasarkan
ayat di atas, manusia dalam konsep al-ins menjadi orang yang harus
mengabdi kepada Allah. Dengan demikian, manusia dalam hidupnya diharapkan akan
selalu menyadari hakikat tersebut. Manusia dituntut memerankan dirinya menjadi
pengabdi Allah secara konsisten dengan penuh ketaan. Ketaatan manusai kepada
Allah merupakan puncak dalam segala aspek kehidupannya, dan atas dasar mengabdi
kepada Allah, manusia itu diciptakan.[20]
Manusia
mendapatkan tantangan dari Allah untuk membuat yang serupa dengan al-Qur’an.
Sebagaimana firman Allah:
قُل
لَّئِنِ ٱجۡتَمَعَتِ ٱلۡإِنسُ وَٱلۡجِنُّ عَلَىٰٓ أَن يَأۡتُواْ بِمِثۡلِ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانِ
لَا يَأۡتُونَ بِمِثۡلِهِۦ وَلَوۡ كَانَ بَعۡضُهُمۡ لِبَعۡضٖ ظَهِيرٗا ٨٨
Artinya: “Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan
jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan
dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi
pembantu bagi sebagian yang lain" (Q.S. al-Isra’: 88)
Dalam konsep
ini, berdasarkan ayat di atas diketahui bahwa manusia mendapatkan tantangan
dari Allah untuk melintasi langit dan bumi serta tantangan membuat yang serupa
al-Qur’an, yang mana hal itu menunjukkan bahwa manusia tidak memiliki daya dan
kekuatan apapun kecuali ata izi Allah. Manusia yang merupakan ciptaan Allah, sebagai hamba Allah
haruslah mengabdi sepenuhnya kepada Allah. Pengambdian tersebut dapat dilakukan
dengan beribadah kepada Allah, dan saling berinteraksi yang baik kepada para
sesama manusia.
3.
Kata al-nâs
Kata al-nâs
dipakai di dalam al-Qur’an untuk menunjuk komunitas manusia yang memiliki
kesamaan potensi dasar sebagai hakikat manusia. Sehingga dalam hal ini, kata al-nâs
dimaknai dengan pengertian manusia yang dipandang secara umum tanpa
terkecuali.[21] Kata al-nâs
dalam al-Qur’an dinyatakan sebanyak 240 kali dan tersebar dalam 53 surat.[22]
Istilah al-nâs
menunjukkan arti manusia yang dijabarkan sebagai kelompok sosial dengan
karakteristiknya, yang dikenali dengan ungkapan wa min al-nâs.[23] Sebagaimana
firman Allah:
وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ
ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَمَا هُم بِمُؤۡمِنِينَ ٨
Artinya: “di
antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari
kemudian," pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.”
(Q.S. al-Baqarah: 8)
فَإِذَا
قَضَيۡتُم مَّنَٰسِكَكُمۡ فَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ كَذِكۡرِكُمۡ ءَابَآءَكُمۡ أَوۡ أَشَدَّ
ذِكۡرٗاۗ فَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي ٱلدُّنۡيَا وَمَا لَهُۥ
فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنۡ خَلَٰقٖ ٢٠٠
Artinya: “apabila
kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut
Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu,
atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada
orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia",
dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (Q.S.
al-Baqarah: 200)
وَمِنَ
ٱلنَّاسِ مَن يَعۡبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرۡفٖۖ فَإِنۡ أَصَابَهُۥ خَيۡرٌ ٱطۡمَأَنَّ
بِهِۦۖ وَإِنۡ أَصَابَتۡهُ فِتۡنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجۡهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةَۚ
ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡخُسۡرَانُ ٱلۡمُبِينُ ١١
Artinya: “dan
di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka
jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia
ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan
di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (Q.S. al-Hajj: 11)
Selain itu
juga terdapat manusia yang mempunyai kualitas rendah, baik dari segi ilmu
maupun dari segi iman yang diungkapkan dengan aktsar al-nâs.[24] Sebagaimana
firman Allah:
قُلۡ
إِنَّمَا عِلۡمُهَا عِندَ ٱللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ١٨٧
Artinya: “.... Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan
tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui." (Q.S. al-A’raf: 187)
إِنَّهُ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَ
وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يُؤۡمِنُونَ ١٧
Artinya: “.... Sesungguhnya (Al Quran) itu benar-benar
dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.” (Q.S. Hûd: 17)
Tidak hanya
itu, ada kata al-nâs juga berkaitan dengan peternakan, dan kepemimpina.[25] Dan masih
banyak lagi ayat-ayat yang menerangkap konsep manusia berkaitan dengan kata al-nâs.
وَلَمَّا
وَرَدَ مَآءَ مَدۡيَنَ وَجَدَ عَلَيۡهِ أُمَّةٗ مِّنَ ٱلنَّاسِ يَسۡقُونَ وَوَجَدَ
مِن دُونِهِمُ ٱمۡرَأَتَيۡنِ تَذُودَانِۖ .....٢٣
Artinya: “dan tatkala ia sampai di sumber air negeri
Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan
(ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita
yang sedang menghambat (ternaknya). ...." (Q.S. al-Qashash: 23)
۞وَإِذِ ٱبۡتَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِۧمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٖ فَأَتَمَّهُنَّۖ قَالَ
إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامٗاۖ... ١٢٤
Artinya: “dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya
dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya.
Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh
manusia". (Q.S. al-Baqarah: 124)
Masih banyak
lagi ayat al-Qur’an yang memiliki kata al-nâs dan memiliki maksud dan
tujuan berbeda yang diambil dari semua makhluk dan ditujukan pada semua makhluk
manusia. Maksud dan tujuan tersebut merupakan penjelasan terhadap kebesaran
Allah melalui fenomena alam semesta, sehingga manusia dapat mengambil nasihat,
pelajaran, motivasi untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt.
4.
Kata al-basyar
Kata al-basyar
dalam al-Qur’an disebutkan sebanyak 36 kali dan tersebar dalam 26 surah. Kata al-basyar
berarti kulit kepala, wajah dan tubuh yang menjadi tempat tumbuhnya rambut. Penamaan
ini menunjukkan bahwa secara biologis yang mendominasi manusia adalah kulit,
dibanding rambut atau bulunya. sehingga terlihat perbedaan secara umum biologis
manusia dengan hewan, yang mana hewan lebih didominasi oleh bulu atau rambut. [26]
Al-basyar juga diartikan sebagai mulâmasah
yang berarti persentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan. Makna etimologis
ini dapat dipahami bahwa manusia marupakan makhluk biologis yang memiliki sifat
kemanusiaan dan keterbatasan. Kata basyar ditujukan kepada semua manusia
tanpa ada pengecualian sedikitpun.[27] Allah
berfirman:
قَالَتۡ
رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي وَلَدٞ وَلَمۡ يَمۡسَسۡنِي بَشَرٞۖ قَالَ كَذَٰلِكِ ٱللَّهُ
يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُۚ إِذَا قَضَىٰٓ أَمۡرٗا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ
٤٧
Artinya: “Maryam berkata: "Ya Tuhanku, betapa
mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang
laki-lakipun". Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril):
"Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah
berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya:
"Jadilah", lalu jadilah dia.” (Q.S. Ali Imran: 47)
قُلۡ
إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ
وَٰحِدٞۖ فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَلَا
يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا ١١٠
Artinya: “Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa
seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu
adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya,
maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan
seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (Q.S. al-Kahfi: 110)
وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنۡ خَلَقَكُم
مِّن تُرَابٖ ثُمَّ إِذَآ أَنتُم بَشَرٞ تَنتَشِرُونَ ٢٠
Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah
Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang
berkembang biak.” (Q.S. ar-Rum: 20)
Banyak ayat
yang al-Qur’an yang menggunakan kata basyar yang mengisyaratkan bahwa
proses kejadian manusia sebegai basyar melalui tahapn-tahapan sehingga
mencapai tahap kedewasaan.[28] Seluruh proses
kejadian manusia akan mengalami reproduksi seksual yang senantiasa berupaya
memenuhi semua kebutuhan biologisnya, hal itu memerlukan waktu yang didasari
atas hukum alamiah yang berupa sunnatullah dan takdir Allah.
5.
Kata Bani Adam
Bani Adam
merupakan kata yang bermakna keturunan nada Adam as. Menurut al-Thabathba’i
sebagaimana dikutip oleh Siswato bahwa pengunaan Bani Adam menunjuk pada arti
manusia secara umum, yang dapat dikaji dari tiga aspek, yaitu: pertama,
anjuran dengan ketentuan berbudaya yang sesuai dengan ketentuan yang telah
Allah tentukan. Kedua, mengingatkan kepada keturunan Nabi Adam agar
tidak terjerumus dalam rayuan syaitan yang mnyesatkan dan mengajak pada
keingkaran. Ketiga, memanfaatkan semua isi alam dalam rangka ibadah
kepada Allah.[29]
Dalam
al-Qur’an, Allah sering kali menyebut manusia dengan kata Bani Adam, dari
sebagian ayat tersebut, kata Bani Adam dikonotasikan sebagai salah satu makhluk
ciptaan Allah swt yang memiliki hubungan tidak hanya dengan sesama manusia,
tetapi juga dengan makhluk yang lain seperti dengan jin, malaikat dan
sebagainya. Oleh karenanya, manusia dalam menjalankan kewajibannya, senantiasa
mendapat rintangan dan godaan dari iblis dan jin, sedangkan malaikat akan
senantiasa membantu dalam menghadapi godaan tersebut.[30]
۞يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمۡ عِندَ
كُلِّ مَسۡجِدٖ وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ وَلَا تُسۡرِفُوٓاْۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ
٣١
Artinya: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di
setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Q.S.
al-A’raf: 31)
۞أَلَمۡ أَعۡهَدۡ إِلَيۡكُمۡ يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ
أَن لَّا تَعۡبُدُواْ ٱلشَّيۡطَٰنَۖ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ ٦٠
Artinya: “Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai
Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah
musuh yang nyata bagi kamu" (Q.S. Yasin: 60)
Ayat tersebut
merupakan penekanaan pada aspek amaliyah yang harus dilakukan oleh anak Adam
ketika hendak pergi ke masjid. Semua anak Adam dianjurkan untuk memakai pakaian
yang indah, makan dan minum yang tidak melampaui batas yang sudah ditentukan
menurut syari’at. Lain halnya dengan ayat selanjutnya di atas, yang membahas
mengenai perintah agar tidak menyembah syaitan. Sebab syaitan merupakan musuh
yang nyata
bagi manusia.
Rakhmat dalam Zaprulkhan
menyatakan bahwa al-Qur’an memandang manusia sebagai makhluk biologis,
psikologis, dan sosial. Apabila ada hukum yang berkenaan dengan karakteristik
biologis manusia, maka ada hukum yang mengendalikan manusia sebagai makhluk
psikologis dan makhluk sosial.[31] Ketiga macam
tersebut memang berkaitan erat dengan manusia yang telah tercantum di dalam
al-Qur’an.
Berdasarkan istilah-istilah yang
bermakna manusia yang terdapat di dalam al-Qur’an, seperti kata al-insān,
al-ins, al-nās, al-basyar, dan bani adam, sebagaimana telah dijelaskan di
atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pada masing-masing kata tersebut terdapat
penekanan yang berbeda, misalnya pada kata al-insān atau al-ins yang
dikategorikan pada manusia yang dipandang secara psikologi, sedangkan kata al-nās
dikategorikan sebagai manusia yang dilihat dari segi sosialnya, pada kata al-basyar
dikategorikan sebagai manusia dari sudut pandang biologinya, dan pada kata bani
adam dikategorikan sebagai manusia dari segi antropologinya. Adanya
penekanan yang berbeda dari makna yang sama dapat memberikan kita cara untuk
membuat kita paham dengan lebih mudah, sehingga tidak menimbulkan suatu
kebingungan pada diri kita.
Potensi yang
Dimiliki oleh Manusia
Allah
menciptakan manusi dengan potensinya, sehingga manusia dapat mengembangan
potensi tersebut ke arah yang lebih baik. Potensi dalam bahasa agama disebut
dengan fitrah. Fitrah berarti kesucian, bebas dari noda dan dosa, seperti
halnya bayi yang baru saja dilahirkan dari perut ibunya. Sejak lahir manusia
sudah memiliki pontensi yang harus dikembangkan sesuai dengan perintah Allah,
yakni menuju pada jalan ketakwaan.
Fitrah
sebagai potensi yang dimiliki manusia, memiliki keterpaduan yang tersimpul
dalam asma’ul husna. Tetapi terdapat batasan di dalamnya, misal Allah al-‘ilmu
(Maha Mengetahui), maka manusia pun memiliki potensi yang bersifat
mengetahui, tetapi kemampuan manusia sangat jauh berbeda dengan Allah. Sebab,
Allah adalah Maha Sempurna, sedangkan manusia memiliki sifat keterbatasan.[32]
Ahmad
Tafsir[33] menyatakan
bahwa potensi yang dimiliki manusia, pertama, sebagai makhluk sosial,
yang mana manusia membawa sifat ingin bermasyarakat. Sebagaimana firman Allah:
يَٰٓأَيُّهَا
ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ
لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ
خَبِيرٞ ١٣
Artinya: “Hai
manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu
disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. al-Hujurat: 13)
Kedua, sebagai
makhluk yang ingin beragama, sehingga pendidikan agama dan lingkungan beragama
perlu disediakan bagi manusia. Allah berfirman:
وَإِذۡ
أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِيٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَأَشۡهَدَهُمۡ
عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ قَالُواْ بَلَىٰ شَهِدۡنَآۚ أَن تَقُولُواْ
يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنۡ هَٰذَا غَٰفِلِينَ ١٧٢
Artinya: “dan
(ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi
mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):
"Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau
Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di
hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah
orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" (Q.S. al-A’raf: 172)
Pemahaman tentang fitrah manusia
bisa dikaji dari ajaran agama Islam, sebagaimana firman Allah sebagai berikut:
فَأَقِمۡ
وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفٗاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ
لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ
ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٣٠
Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada
agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia
menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang
lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Q.S. al-Rum: 30)
Muhaimin menyatakan bahwa fitrah
manusia banyak macamnya, sehingga dipetakan sebagai berikut:
1.
Fitrah beragama merupakan potensi
bawaan yang memberikan kemampuan kepada manusia untuk tunduk, dan taat dalam
melaksanakan perintah Allah.
2.
Fitrah berakal budi merupakan
potensi manusia untuk selalu berpikir akan kekuasaan dan keagungan yang
dimiliki Allah.
3.
Fitrah bermoral dan berakhlak
merupakan potensi manusia dalam melaksanakan nilai-nilai moral dan akhlak dalam
kehidupannya.
4.
Fitrah kebersihan dan kesucian merupakan
potensi manusia untuk selalu menjaga dan mencintai kebersihan.
5.
Fitrah kebenaran merupakan
potensi manusia yang selalu mencari dan mencapai kebenaran.
6.
Fitrah kemerdekaan merupakan potensi manusia
untuk mempunyai kebebasan dan kemerdekaan dan tidak terbelenggu dan menjadi
budak orang lain.
7.
Fitrah keadilan merupakan fitrah
yang mendorong manusia untuk menegakkan keadilan di bumi.
8.
Fitrah persamaan dan persatuan
merupakan potensi manusia untuk mempersamakan dan mempersatukan serta menentang
diskriminasi berdasarkan ras, suku, bahasa dan lainnya.
9.
Fitrah individu merupakan potensi manusia
untuk melakukan tindakan dengan penuh tanggung jawab dan menyelesaikan persoalan dan menjaga harga
diri dan kehormatan diri dan keluarga.
10. Fitrah
sosial merupakan mendorong manusia untuk hidup bersama, bekerjasama, gotong
royong dan saling membantu.
11. Fitrah seksual merupakan potensi untuk memberikan dorongan untuk membentuk
keluarga dan menghasilkan keturunan, dan kepada keturunannyalah manusia bisa
mewariskan nilai yang diyakini benar.
12. Fitrah ekonomi merupakan potensi yang mendorong manusia memenuhi kebutuhan
hidupnya.
13. Fitrah
politik merupakan fitrah yang mendorong manusia untuk berusaha menyusun suatu
kekuasaan dan institusi yang mampu melindungi kepentingan bersama.
14. Fitrah seni merupakan untuk mendorong manusia untuk mencintai seni
mengembangkannya dalam kehidupan.[34]
Fitrah
tersebut di atas pasti dimiliki oleh masing-masing manusia, dan tentunya fitrah
tersebut tidak langsung tampak begitu saja dalam diri manusia, melainkan
melalui perihal tertentu yang dilakukan oleh manusia. Manusia tidak bisa
mengetahui terhadap fitrah yang Allah berikan, jika manusia itu tidak bisa mengkaji
dirinya sendiri. Manusia yang paham pada dirinya sendiri, tentu akan bisa
mengembangkan fitrahnya melalui berbagai cara yang salah satu melalui belajar
dan belajar tersebut tidak terbatas pada waktu dan ruang.
Selain dari
fitrah yang telah disebutkan di atas, terdapat juga ala-alat potensial
sebagaimana dinyatakan oleh Abdul Fattah Jalal dalam Muhaimin, beliau telah mengkaji
ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan alat-alat potensial (fitrah) manusia
sebagai berikut:
1.
Al-Lams dan al-syum
(alat peraba dan alat penciuman/ pembau) sebagaimana dalam al-Qur’an
dinyatakan:
وَلَوۡ نَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ
كِتَٰبٗا فِي قِرۡطَاسٖ فَلَمَسُوهُ بِأَيۡدِيهِمۡ لَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِنۡ
هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ مُّبِينٞ ٧
Artinya: “Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di
atas kertas, lalu mereka dapat menyentuhnya dengan tangan mereka sendiri,
tentulah orang-orang kafir itu berkata: "Ini tidak lain hanyalah sihir
yang nyata". (Q.S. al-An’am: 7)
وَلَمَّا
فَصَلَتِ ٱلۡعِيرُ قَالَ أَبُوهُمۡ إِنِّي لَأَجِدُ رِيحَ يُوسُفَۖ لَوۡلَآ أَن تُفَنِّدُونِ
٩٤
Artinya: “Tatkala kafilah itu telah ke luar (dari negeri
Mesir) berkata ayah mereka: "Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya
kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku)". (Q.S.
Yusuf: 94)
2.
Al-sam’u (alat
pendengaran) penyebutan alat ini dihubungkan dengan penglihatan dan qalbu
dengan saling melengkapi untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Misalnya dalam
ayat:
ثُمَّ سَوَّىٰهُ وَنَفَخَ فِيهِ
مِن رُّوحِهِۦۖ وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَٱلۡأَفِۡٔدَةَۚ قَلِيلٗا مَّا تَشۡكُرُونَ ٩
Artinya: “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke
dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran,
penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” (Q.S. Al-Sajdah:
9)
3.
Al-abshar (alat
penglihatan), banyak ayat al-Qur’an yang menyeru manusia untuk melihat dan
merenungkan apa saja yang dilihatnya, hingga mencapai hakikatnya: sebagaimana
firman Allah:
أَوَ لَمۡ يَرَوۡاْ أَنَّا نَسُوقُ
ٱلۡمَآءَ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ٱلۡجُرُزِ فَنُخۡرِجُ بِهِۦ زَرۡعٗا تَأۡكُلُ مِنۡهُ أَنۡعَٰمُهُمۡ
وَأَنفُسُهُمۡۚ أَفَلَا يُبۡصِرُونَ ٢٧
Artinya: “dan apakah mereka tidak memperhatikan,
bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu
Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanaman yang daripadanya makan hewan ternak
mereka dan mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak memperhatikan.” (Q.S.
al-Sajdah: 27)
4.
Al-‘aql (akal atau
daya pikir) yaitu al-qur’an memberikan perhatian khusus terhadap penggunaan
akal dalam berpikir, karena penggunaan akal memugkinkan diri manusia untuk
terus ingat (dzikir) dan memikirkan/merenungkan ciptaan-Nya untuk dapat
,mengetahui tanda-tanda kebesaran/ keagungan Allah. Sebagaimana firmanNya:
۞أَفَمَن يَعۡلَمُ أَنَّمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ
مِن رَّبِّكَ ٱلۡحَقُّ كَمَنۡ هُوَ أَعۡمَىٰٓۚ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ
١٩
Artinya: Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang
diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta?
Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.” (Q.S.
ar-Ra’d: 19)
5.
Al-qalb (kalbu), hal
ini termasuk alat ma’rifah yang digunakan manusia untuk dapat mencapai ilmu.
Kalbu mempunyai kedudukan khusus dalam ma’rifah ilahiyah (pengetahuan
ketuhanan), dengan kalbu manusia dapat meraih berbagai ilmu serta ma’rifah yang
diserap dari sumber ilahi. Dan wahyu ke
dalam kalbu Nabi Muhammad saw.[35] Sebagaimana firman-Nya:
أَفَلَا
يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَ أَمۡ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقۡفَالُهَآ ٢٤
Artinya: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran
ataukah hati mereka terkunci.” (Q.S. Muhammad: 24)
Alat-alat potensial tersebut
diatas merupakan alat potensial yang dimiliki maanusia, yang selanjutnya
dikembangkan sesuai dengan kemampuannya dan didasari atas keinginan Allah,
yaitu menjadi hamba Allah yang bertakwa kepada Allah dengan memanfaatkan alat
potensialnya.
Manusia dalam Kaitannya dengan Pendidikan
Islam
Manusia
dilahirkan disertai dengan potensinya, tetapi perlu adanya pendidikan untuk mengembangankan
potensi
yang dimilikinya. Manusia memiliki kewajiban untuk mengembangkan
potensinya dengan baik, sebab itu merupakan tanggung jawab manusia kepada
Allah. Pengembangan potensi tersebut dengan kemungkinan manusia itu di didik dan bisa juga untuk
mendidik.[36]
Adanya
fitrah atau
potensi dalam diri manusia dapat membantu perkembangan manusia lebih baik dan
agamis melalui pendidikan. Islam mewajibkan manusia untuk belajar, dan belajar
pada masa saat ini melalui pendidikan. Pendidikan merupakan kebutuhan manusia
yang harus dipenuhi, demi mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan dunia dan
akhirat. Sehingga manusia memiliki berbagai keilmuan yang bisa dijadikan bekal
untuk menjalani kehidupan yang beriman, dan bertakwa kepada Allah.[37]
Allah
memberikan potensi atau fitrah dalam diri manusia untuk membedakan manusia
dengan yang lainnya, sehingga manusia dikatakan menjadi ciptaan Allah yang
sempurna, memiliki akal untuk berpikir atas segala sesuatu yang telah Allah
ciptakan dan memiliki sebagian dari safat-sifat Allah seperti ar-rahmān,
ar-rahīm,al-‘alīm, al-ghafūr, al-lathīf, al-qadīr, al-‘adl, dan al-hadī.
Sifat-sifat
Allah yang sebagai dimiliki oleh manusia seperti di atas harus dikembangkan oleh
manusia dan diterapkan dalam kehidupannya baik pada saat sendiri maupun ketika
bersama dengan orang lain. Sebab kemuliaan manusia di sisi Allah dilihat dari
segi kualitasnya dalam mengembangkan sifat-sifat Allah yang ada pada diri
manusia, dan kemuliaan itu tidak dilihat dari materi yang dimiliki, dan fisik
yang ada pada dirinya.[38]
Selain itu,
manusia juga memiliki fitrah yang harus dikembangkan melalui pendidikan Islam,
sebagaimana berikut:
No.
|
Fitrah Manusia
|
Pengembangan dalam Pendidikan
Islam
|
1
|
Fitrah
beragama
|
Fitrah beragama menjadi titik
sentral dalam kehidupan manusia, sehingga sangat penting untuk dikembangkan dengan
benar. Adanya pendidikan Islam dapat membawa perubahan kepada manusia agar bisa
tunduk dan patuh kepada Allah sebagai Tuhannya melalui ibadah-ibadah yang
bisa dilakukan dalam kesehariannya. Ibadah bisa dilakukan oleh siapa saja,
tetapi jika tanpa ilmunya maka ibadah itu akan sia-sia. Sehingga dalam
pendidikan Islam, manusia diajarkan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan keagamaan
atau tentang ibadah kepada Allah, mulai dari yang sangat mendasar sampai pada
yang urgen. Jika melihat pendidikan Islam seperti madrasah, maka didalamnya diajarkan
fiqih, aqidah dak akhlak, tasawuf, sejarah Islam dan al-qur’an hadits. Lebih
lagi pada pondok pesantren yang memang mengajar tentang agama Islam, sehingga
isi pelajaran tentang keislamannya lebih banyak dari pada sekolah/madrasah.
|
2
|
Fitrah
berakal budi
|
Pendidikan memiliki peranan
penting untuk mengembangkan daya berpikir yang baik pada manusia yang dapat
menimbulkan dzikir-dzikir untuk mengingat Allah melalui ciptaan-Nya, sehingga
manusia juga bisa berbudaya dan berkarya dengan pengetahuan yang diperolehnya
melalui pendidikan.
|
3
|
Fitrah
bermoral dan berakhlak
|
Pendidikan juga berperan penting
untuk menumbuhkembangkan moral dan akhlak manusia. Jika melihat dari segi
pendidikan keluarga, orangtua terus melatih anaknya untuk bersikap yang baik,
adil, jujur dan lain sebagainya. Hal itu dikuatkan dengan pendidikan Islam
seperti madrasah dan pondok pesantren, lembaga tersebut memiliki aturan dan
budaya Islami yang harus ditaati oleh murid/santri. Tanpa adanya pendidikan
Islam, maka sulit untuk mengembangkan fitrah bermoral dan berakhlak yang
memang manusia seharusnya memiliki terhadap moral dan akhlak yang baik.
|
4
|
Fitrah
kebersihan dan kesucian
|
Dalam pendidikan Islam baik
madrasah maupun pondok pesantren diajarkan tentang kebersihan dan kesucian
melalui pembelajaran materi fiqih, atau aturan-aturan yang berlaku pada
masing-masing lembaga pendidikan Islam. Hal itu menjadi dasar manusia untuk
selalu menjaga kebersihan dan kesucian yang dibawanya sejak lahir.
|
5
|
Fitrah
kebenaran dan keadilan
|
Pendidikan juga perlu
mengembangkan fitrah kebenaran dan keadilan yang dimiliki oleh manusia,
sehingga manusia bisa bersikap benar dan adil. Bersikap benar dan adil harus
ada dasar pengetahuannya, dan dasar pengetahuan tersebut bisa diperoleh dari
belajar di pendidikan Islam atau berdasarkan pada pengalaman dari orang-orang
yang sudah menguasai ilmu melalui pendidikan.
|
6
|
Fitrah
kemerdekaan
|
Pendidikan Islam mengajarkan
manusia untuk bersikap bebas dan merdeka, dalam artian dengan belajar melalui
pendidikan Islam, manusia dapat bebas dari belenggu-belenggu yang mengganggu
kehidupannya dan terbebas dari tekanan sesuatu yang menimpa dirinya.
|
7
|
Fitrah
persamaan dan persatuan
|
Pendidikan Islam juga mengajarkan
bahwa keberagaman bernilai sama dihadapan Allah, sehingga manusia dianjurkan menegakkan
persatuan dalam persamaan, meski berbeda dari segi ras, budaya dan bahasa.
|
8
|
Fitrah
individu
|
Melalui pendidikan Islam, manusia
juga diajarkan untuk mandiri atas semua tugasnya, memiliki tanggung jawab
terhadap segala sesuatu yang dilakukan, mempertahankan apa yang menjadi
haknya, dan diajari juga bagaimana menjaga keselamatan dan apa yang dimilikinya.
|
9
|
Fitrah
seksual
|
Dalam pendidikan Islam
murid/santri diajari yang berkaitan dengan seksualitas, sehingga dapat
menjaga dirinya dari godaan yang dapat menjatuhkan dirinya dalam kesalahan.
Seksualitas diajarkan sebagai pengetahuan untuk masa depannya, untuk
memperoleh keturunan yang iman dan taqwa kepada Allah, sehingga bisa
meneruskan apa yang sudah dipelajarinya mulai dari sejak kecil.
|
10
|
Fitrah
ekonomi
|
Pendidikan Islam juga
memperhatikan tentang ekonomi, sehingga manusia dapat mengembangkan fitrah
ekonominya melalui pendidikan Islam yang menjadi dasar dan panduan untuk
perkembangan prekonomian dan kebutuhan dalam kehidupnnya.
|
11
|
Fitrah
politik
|
Pendidikan Islam juga mengajarkan
tentang politik sebagai sarana pengembangan fitrah politik yang dimiliki oleh
manusia. Politik yang diajarkan tentunya berlandasan pada al-Qur’an dan
Hadits, serta hukum yang berlaku di suatu tempat. Melalui pendidikan, manusia
dapat mengembangkan dan menerapkan politiknya dengan baik dan benar.
|
12
|
Fitrah
seni
|
Manusia menyukai keindahan,
karena di dalam dirinya ada fitrah seni. Pendidikan Islam mengajarkan seni
sebagai dasar pengetahuan manusia, sehingga manusia dapat mengembangkan
fitrah seninya. Dalam ajaran Islam terdapat banyak ajaran seni, salah satunya
dalam mempelajari al-Qur’an yaitu seni keindahan suara, dalam pelafadzan
huruf-huruf al-Qur’an dan lain sebagainya.
|
Oleh
sebab itulah, pendidikan memiliki peranan efektif untuk mengembangkan potensi
dalam diri manusia, tetapi hal itu juga dipengaruhi oleh lingkungan dan
didukung oleh faktor bawaan sejak lahir. Tujuan pendidikan untuk membina
kepribadian manusia secara sempurna. Pendidikan juga dianggap sebagai transfer
kebudayaan, dan pengembangan ilmu pengetahuan akan membawa manusia mengerti dan
memahami lebih luas tentang suatu keilmuan.[39]
Pendidikan
menjadi titik perhatian dengan memberikan bantuan kepada para pelajar untuk menilai
alternatif dan menyeleksi mana yang baik dan yang tiddak baik. Pendidikan bukan
suatu proses pemaksaan dari seorang pendidik untuk menentukan setiap langkah
yang harus diterima oleh anak didik secara individual. Karena pendidikan lebih
menekankan pada bimbingan yang menjadi karakteristik pendidikan itu sendiri.[40]
Manurut
Abuddin Nata adanya potensi manusia sangat membantu dalam merumuskan berbagai
komponen pendidikan, atau dapat dijadikan dasar dalam merumuskan berbagai
kebijakan dalam bidang pendidikan, terutama dalam perumusan visi, misi, tujuan
dan hakikat pendidikan, kurikulum dan materi pendidikan, proses belajar mengajar,
kompetensi tenaga pendidik, dan peserta didik.[41]
Proses
pendidikan merupakan rangkaian yang tak terpisahkan dari proses penciptaan alam
semesta dalam kaitannya dengan proses penciptaan manusia. Dalam konteks pendidikan, secara garis besar
pandangan kemanusiaan mengandung tiga implikasi dasar. Pertama,
berkaitan dengan visi dan orientasi pendidikan di masa depan. Kedua,
pada tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan Islam di masa depan di arahkan pada
pencapaian pertumbuhan kepribadian manusia secara seimbang. Ketiga, pada
muatan materi dan metodologi pendidikan karena manusia diakui mempunyai banyak
potensi dasar, oleh karena itu muatan materi pendidikan harus dapat meliputi
seluruh potensi yang dimiliki oleh manusia.[42]
Pendidikan Islam
sangat memiliki peranan penting dalam mengembangkan potensi atau fitrah yang
dimiliki manusia, perkembangan fitrah manusia melalui pendidikan Islam
membawakan perbedaan terhadap perjalanan manusia itu sendiri. Manusia sebagai
hamba Allah, tentunya harus memahami terhadap apa saja yang berkaitan dengan
nilai-nilai dan ilmu pengetahuan untuk beribadah kepada Allah. Sehingga manusia
harus mengembangkan fitrah beragamanya dengan baik. Selain itu juga, manusia
harus megembangkan fitrah persamaan dan persatuan, fitrah kemerdekaan, fitrah
individu, dan fitrah politik sebagai dasar manusia menjadi khalifah di muka
bumi yang mengembang amanah untuk melindungi dan mensejahterakan bumi Allah.
Penutup
Manusia
diciptakan oleh Allah yang memiliki karakteristik dan keunikah yang dilengkapi
dengan akal pikiran. Sehingga manusia dinyatakan sebagai ciptaan Allah dalam
bentuk sebaik-baiknya. manusia diciptakan dari sari pati, kemudian menjadi air
mani, selanjutnya menjadi segumpal darah, dari segumpal dari menjadi segumpal
daging, setelah itu menjadi tulang-belulang yang dibungkus dengan daging.
Setelah itu, Allah menjadikan bentuk yang sempurna yang selanjutnya ditiup ruh
ke dalam danin. Manusia lahir ke dunia dalam keadaan suci, yang juga disertai dengan
potensi-potensi yang Allah berikan. Manusia diciptakan sebagai hamba Allah dan
sebagai khalifah di bumi.
Di
dalam al-Qur’an terdapat lima kata yang digunakan, pertama: kata al-insān, memiliki
arti lemah lembut, harmonis, tampak dan pelupa. Kata al-insan
menunjukkan totulitas manusia sebagai makhluk jasmani dan ruhani. Kedua, kata al-ins
manusia dalam konsep al-ins menjadi orang yang harus mengabdi kepada
Allah. Dengan demikian, manusia dalam hidupnya diharapkan akan selalu menyadari
hakikat tersebut. Ketiga, Kata al-nâs dipakai di dalam al-Qur’an untuk
menunjuk komunitas manusia yang memiliki kesamaan potensi dasar sebagai hakikat
manusia. Sehingga dalam hal ini, kata al-nâs dimaknai dengan pengertian
manusia yang dipandang secara umum tanpa terkecuali. Keempat kata al-basyar, penamaan ini
menunjukkan bahwa secara biologis yang mendominasi manusia adalah kulit,
dibanding rambut atau bulunya. sehingga terlihat perbedaan secara umum biologis
manusia dengan hewan, yang mana hewan lebih didominasi oleh bulu atau rambut.
Kelima, Dalam al-Qur’an, Allah sering kali menyebut manusia dengan kata Bani
Adam, dari sebagian ayat tersebut, kata Bani Adam dikonotasikan sebagai salah
satu makhluk ciptaan Allah swt yang memiliki hubungan tidak hanya dengan sesama
manusia, tetapi juga dengan makhluk yang lain seperti dengan jin, malaikat dan
sebagainya.
Manusia
sebagai khalifah di bumi, memiliki potensi yang diberikan Allah dan potensi itu
disebut fitrah. Banya sekali fitrah manusia yang meliputi fitrah beragama, fitrah berakal budi, fitrah
bermoral dan berakhlak, fitrah kebersihan dan kesucian, fitrah kebenaran,
fitrah kemerdekaan, fitrah keadilan, fitrah persamaan dan persatuan, fitrah
individu, fitrah sosial, fitrah seksual, fitrah ekonomi, fitrah politik, dan
fitrah seni. Selain
itu, juga ada alat potensial yang meliputi kemampuan al-lams dan al-syum
(alat peraba dan pencium/pembau), al-sam’u (alat pendengar), al-abshar
(alat penglihatan), al-‘aql (akal atau daya pikir), al-qalb
(kalbu).
Dan
jika di hubungkan dalam pendidikan Islam, maka diperlukan gambaran pendidikan
pendidikan Islam mampu menjadi tempat dalam membangun masyarakat Islam yang
sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keagamaan. Pendidikan Islam perlu
didesain dengan baik, dan rapi. Sehingga mampu mengembangkan potensi yang dimiliki
manusia.
Fitrah atau potensi yang dimiliki manusia sangat perlu dikembangkan, dan
pengembangan tersebut melalui pendidikan Islam agar lebih jelas dan terarah
sesuai fitrah yang ada.
Daftar Pustaka
Abdullah,
Abdurrahman Saleh. 2007. Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an.
Terj. Arifin dan Zainuddin. Jakarta: Rineka Cipta.
Al-Syaibany,
Omar Mohammad Al-Toumy.
1979. Falsafah Pendidikan Islam. Terj. Hasan Langgulung. Jakarta: Bulan
Bintang.
Darwis, Djamaluddin.
2006. Dinamika Pendidikan Islam, Sejarah, Ragam dan Kelembagaan.
Semarang: RaSAIL.
Daulay, Haidar Putra.
2014. Pendidikan Islam dan Perspektif Filsafat. Jakarta: Kencana.
Djumransyah, dan Abdul
Malik Karim Amrullah. 2007. Pendidikan Islam: Menggali “Tradisi”, Meneguhkan
Eksistensi. Malang: UIN-Maliki Press.
Haris, Abd., dan Kivah
Aha Putra. 2012. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Amzah.
Hasbiyallah, dan Moh.
Sulhan. 2015. Hadis Tarbawi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Jalaluddin, dan Abdullah
Idi. 2009. Filsafat Pendidikan: Manusia, Filsafat dan Pendidikan.
Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Mahmud. 2011. Pemikiran
Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia.
Muhaimin, Suti’ah, dan
Nur Ali. 2012. Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan
Agama Islam di Sekolah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Muhammad, Muhammad
Thaib. 2016. “Kualitas Manusia dalam Pandangan Al-Qur’an.” Al-Mu’asyirah,
Vol. 13 No. 1.
http://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/almuashirah/article/viewFile/2348/1698
(diakses 9 Maret 2018).
Muhmidayeli. 2013. Filsafat
Pendidikan. Bandung: PT Refika Aditama.
Nata, Abuddin. 2013. Pemikiran
Pendidikan Islam dan Barat. Jakarta: Rajawali Pers.
Ramayulis, dan Samsul
Nizar. 2009. Filsafat Pendidikan Islam: Telaah Sistem Pendidikan dan
Pemikiran Para Tokohnya. Jakarta: Kalam Mulia.
Sada, Heru Juabdin.
2016. “Manusia dalam Perspektif Agama.” Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan
Islam, Vol. 7. http://ejournal.radenintan.ac.id/index.php/tadzkiyyah/article/viewFile/1498/1233
(diakses 9 Maret 2018).
Shihab, Quraish. 2013. Wawasan
Al-Qur’an: Tafsir Tematik atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: Mizan.
Siswanto. 2015. Filsafat
dan Pemikiran Pendidikan Islam. Surabaya: Pena Salsabila.
Suharto, Toto. 2014. Filsafat
Pendidikan Islam: Menguatkan Epistimologi Islam dalam Pendidikan.
Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Suhartono, Suparlan.
2008. Filsafat Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Tafsir, Ahmad. 2016. Filsafat
Pendidikan Islam: Integrasi Jasmani, Rohani, dan Kalbu; Memanusiakan manusia.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Wiyani, Novan Ardy. dan
Barnawi. 2012. Ilmu Pendidikan Islam: Rancang Bangun Konsep Pendidikan
Monokotomik-Holistik. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Zaprulkhan. 2014. Filsafat
Islam: Sebuah Kajian Tematik. Jakarta: Rajawali Pers.
Zuhairini. 2012. Filsafat
Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
[1] Penulis merupakan Mahasiswa Program Magister PAI Pascasarjana
IAIN Madura
Semester II Tahun 2018
[2] Novan
Ardy Wiyani dan Barnawi, Ilmu Pendidikan Islam: Rancang Bangun Konsep
Pendidikan Monokotomik-Holistik (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), 43.
[5] Djamaluddin
Darwis, Dinamika Pendidikan Islam, Sejarah, Ragam dan Kelembagaan
(Semarang: RaSAIL, 2006), 123.
[6] Muhammad
Thaib Muhammad, “Kualitas Manusia dalam Pandangan Al-Qur’an,” Al-Mu’asyirah,
Vol. 13 No. 1 (2016), 4.
http://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/almuashirah/article/viewFile/2348/1698
(diakses 9 Maret 2018).
[7] Toto
Suharto, Filsafat Pendidikan Islam: Menguatkan Epistimologi Islam dalam
Pendidikan (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014), 68.
[8] Heru
Juabdin Sada, “Manusia dalam Perspektif Agama,” Al-Tadzkiyyah: Jurnal
Pendidikan Islam, Vol. 7 (2016), 132
http://ejournal.radenintan.ac.id/index.php/tadzkiyyah/article/viewFile/1498/1233
(diakses 9 Maret 2018). 132
[12] Omar
Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, Terj. Hasan
Langgulung (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), 103–61.
[13] Quraish
Shihab, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Tematik atas Pelbagai Persoalan Umat
(Bandung: Mizan, 2013), 367.
[14] Wiyani
dan Barnawi, Ilmu Pendidikan Islam: Rancang Bangun Konsep Pendidikan
Monokotomik-Holistik, 45.
[16] Wiyani
dan Barnawi, Ilmu Pendidikan Islam: Rancang Bangun Konsep Pendidikan
Monokotomik-Holistik, 46–48.
[17] Ramayulis
dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: Telaah Sistem Pendidikan dan
Pemikiran Para Tokohnya (Jakarta: Kalam Mulia, 2009), 53.
[19] Ramayulis
dan Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: Telaah Sistem Pendidikan dan Pemikiran
Para Tokohnya, 54.
[33] Ahmad
Tafsir, Filsafat Pendidikan Islam: Integrasi Jasmani, Rohani, dan Kalbu;
Memanusiakan manusia (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2016), 23.
[34] Muhaimin,
et.al, Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama
Islam di Sekolah (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), 18.
[36] Djumransyah
dan Abdul Malik Karim Amrullah, Pendidikan Islam: Menggali “Tradisi”,
Meneguhkan Eksistensi (Malang: UIN-Maliki Press, 2007), 43.
[39] Jalaluddin
dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan: Manusia, Filsafat dan Pendidikan
(Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2009), 133–34.
[40] Abdurrahman
Saleh Abdullah, Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an, Terj.
Arifin dan Zainuddin (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), 84.
Komentar
Posting Komentar