Merancang Tujuan dan Materi Diklat - Matakuliah Manajemen Diklat


MERANCANG TUJUAN DAN MATERI DIKLAT

Masrullah[1]

Abstrak: adanya perkembangan yang terjadi di era modern ini menuntut semua instansi dan juga perorangan untuk memiliki kreatifitas dan inovasi, sehingga mampu bersaing dengan yang lainnya. Untuk itulah, maka perlu adanya pelatihan yang dilakukan oleh instansi dan perorangan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Pelatihan tersebut berdasarkan pada tujuan yang diingikan oleh berbagai pihak, sehingga tujuan sangat penting untuk dirumuskan dengan tepat berdasarkan pada tiga aspek pokok, yaitu knowledge, skill, dan attitude. Dalam hal ini, materi juga disesuaikan dengan tujuan yang telah ditetapkan dan dirancang dalam silabus pelatihan.


Katakunci: tujuan, materi dan diklat.


Pendahuluan
Pelatihan atau yang sering kali di kenal dengan diklat diartikan sebagai pelajaran untuk membiasakan atau memperoleh suatu keterampilan. Pengertian ini menunjukkan bahwa pelatihan erat kaitannya dengan kemampuan seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan. Sebagaimana yang disampaikan oleh Flippo dalam Ikka Kartika A. Fauzi bahwa pada dasarnya pelatihan merupakan suatu usaha penegtahuan dan keterampilan agar karyawan dapat mengerjakan suatu pekerjaan tertentu.  Kemudian  Mills  dalam Ikka Kartika A. Fauzi menyatakan bahwa pelatihan itu harus bertujuan, sehingga tujuan pelatihan adalah untuk mendorong peserta pelatihan agar mereka memperoleh skill, sikap, kebiasaan berfikir dan kualitas watak yang memungkinkan mereka dapat memahami pekerjaan-pekerjaannya dan dapat melakukannya secara efisien dan memuaskan.[2]
Tujuan memiliki peranan penting dalam melakukan sebuah pelatihan, sebab adanya tujuan dapat memperjelas arah diklat yang dilakukan oleh seseorang atau organisasi. Sehingga dengan adanya hal itu, maka perlu adanya perumusan tujuan pelatihan yang tepat dan sesuai dengan sasaran yang diinginkan. Jika tujuan telah dirumuskan dengan baik, maka perlu menentukan materi yang sesuai dengan perumusan tujuan pelatihan, dan pelatih perlu merumuskan semuanya di dalam silabus yang akan digunakan dalam pelatihan. Maka untuk itulah akan dibahas perumusan tujuan pelatihan, materi pelatihan, perancangan silabus pelatihan.

Merancang dan Menentukan Tujuan Pelatihan
Pelatihan atau diklat memiliki tujuan untuk melakukan perubahan pada peserta pelatihan baik dari naungan instansi ataupun organisasi. Tujuan pelatihan perlu ditetapkan secara tepat pada sasaran yang diinginkan, sehingga dapat memberikan perubahan pengetahuan, sikap, maupun keterampilan. Dalam perumusan tujuan dapat berdasarkan pada tiga kategori pokok domain, yang terdiri pada domain kognitif (knowledge), domain afektif (attitude), dan domain psikomotorik (skill).[3] Ketiganya merupakan sasaran yang harus diperoleh oleh masing-masing peserta pelatihan, namun tidak semua pelatihan bisa menghasilkan pada tiga kategori tersebut, melainkan bergantung pada kebutuhan yang diinginkan oleh masing-masing pelakasana dan peserta pelatihan.
a.    Domain kognitif (knowledge) merupakan tujuan pelatihan yang berkaitan dengan pengetahuan. Dalam domain ini terdapat enam bagian tingkatan, yaitu:
1)      Knowledge (pengetahuan), yaitu kemampuan peserta pelatihan untuk mengingat kembali materi-materi yang telah dipelajari.
2)      Comprehension (pemahaman), yaitu kemampuan peserta pelatihan untuk mengerti dan memahami arti materi yang telah dipelajari.
3)      Application (penerapan), yaitu kemampuan peserta pelatihan untuk menggunakan materi-materi yang telah dipelajari di dalam satu situasi konkrit yang baru.
4)      Analysis (analisis), yaitu kemampuan peserta pelatihan untuk merinci materi pelatihan ke dalam berbagai komponen dan memahami strukturnya.
5)      Synthesis (sintesis), yaitu kemampuan peserta pelatihan untuk menempatkan berbagai bagian yang terpisah secara bersama-sama untuk membentuk suatu kesatuan baru yag utuh secara menyeluruh.
6)      Evaluation (evaluasi), yaitu kemampuan peserta pelatihan dalam mempertimbangkan nilai-nilai yang terkandung dalam materi pelatihan untuk satu tujuan yang telah ditetapkan.[4]
Berdasarkan hal di atas dapat dikatakan bahwa pada aspek domain kognitif (knowledge) ini berkaitan erat dengan pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang yang akan menjadi peserta pelatihan dari suatu instansi atau organisasi. Pihak yang berwenang dalam instansi atau organisasi harus mengetahui secara menyeluruh terhadap pengetahuan yang dimiliki oleh anggotanya, sehingga ketika ingin mengadakan pelatihan (dan apabila pada bagian knowledge yang harus diperbaiki) dapat menentukan tujuan pelatihan yang segi knowledge dengan tepat dan benar.
b.    Domain psikomotorik (skill), yaitu tujuan pelatihan yang berkaitan dengan keterampilan. Dalam domain ini ada tujuh tingkatan, yaitu:
1)      Perception (persepsi), yaitu menyadari adanya suatu tindakan yang harus dilakukan melalui perasaan.
2)      Set (kesiapan), yaitu telah siap untuk bertindak secara mentah, fisik dan emosinya.
3)      Guided Responses (tanggapan yang diarahkan), yaitu melakukan tindakan tertentu di bawah supervisi dengan cara meniru atau uji coba yang melibatkan juga tindakan praktik.
4)      Mechanism (mekanisme), yaitu melaksanakan suatu tindakan tertentu dengan biasa dan tingkat kepercayaan tertentu, meningkatkan efesiensi
5)      Complex Overt Response, yaitu menampilkan suatu tindakan secara otomatis tanpa ada ketakutan dan telah dilakukan dengan keterampilan yang cukup tinggi.
6)      Adaptation (adaptasi), yaitu mampu untuk memudifikasi atau menyesuaikan tindakan tertentu dengan keterampilan tertentu untuk berhubungan dengan situasi baru
7)      Origination (originasi), yaitu menciptakan pola-pola gerakan atau tindakan baru gun menyesuaikan situasi yang khusus atau permasalahan khusus yang dihadapi.[5]
Adanya keterampilan sangat diharapkan pada setiap orang untuk mengerjakan segala pekerjaan yang ditekuninya. Seringkali organisasi atau instansi mengadakan pelatihan untuk menjadikan anggotanya menjadi terampil dalam bidangnya. Sehingga adanya pelatihan tersebut setidaknya dapat melaksanakan ketujuh tingkatan tersebut di atas.
c.    Domain afektif (attitude), merupakan tujuan pelatihan yang berkaitan dengan sikap dan tingkah laku. Dalam hal ini terdapat lima tingkatan yang berjenjang sebagai berikut:
1)      Receiving (menerima), yaitu menyadari adanya agagasan atau proses atau sesuatu hal, sehingga menjadikan diri untuk mempelajari atau mencoba dengan tingkah laku yang khusus.
2)      Responding (menanggapi), yaitu berperanserta secara aktif, memberikan tanggapan dengn patuh dan kemudian dengan senang hati menerima kepuasan dari tanggapan tersebut
3)      Valuing (menilai), yaitu menerima nilai-nilai tingkah laku yang dipercaya, nilai atau cita-cita, mengekspresikan minat preferensinya, membangun komitmen.
4)      Organization (organisasi), yaitu mengkonsepsikan berbagai nilai, membandingkan, menghubungkan nilai-nilai tersebut ke dalam suatu hirarki atau kelompok.
5)      Characterization (karakterisasi), yaitu mengikuti nilai-nilai tersebut sebagai dasar untuk mengendalikan atau engarahkan tingkah laku, mengintegrasikan nilai-nilai tersebut menjadi filosofi hidup.[6]
Adanya perubahan sikap menjadi lebih baik tentu sangat diharapkan oleh berbagai institusi dan organisasi, sehingga dapat memberikan wajah yang berbeda dengan yang sebelumnya. Sikap kepala/ketua dan anggota sangat menentukan terhadap kesuksesan yang ingin dicapai, dan tentunya apabila suatu organisasi atau instansi menginginkan suatu perubahan, maka perlu adanya pelatihan dan perumusan tujuan pelatihannya lebih mengarah pada sikap atau nalai-nilai yang akan dibawa ke dalam institusi atau organisasi.
Ketiga domain ini sangat penting untuk diperhatikan dalam merancang suatu tujuan pelatihan, sebab ketiganya sangat dibutuhkan oleh masing-masing anggota dalam instansi atau organisasi. Adanya perumusan tujuan pelatihan bergantung temuan-temuan yang didapatkan pada masing-masing institusi atau organisasi yang ingin melakukan peningkatan kerja melalui perubahan nyata baik dari pengetahuan, sikap, dan keterampilan, sehingga nantinya perumusan tujuan lebih mengarah pada ketiganya, atau salah satu diantara ketiganya. Pada dasarnya, ketiganya sangat penting untuk dirumuskan dalam tujuan pelatihan.
Tujuan pelatihan dirumuskan dalam bentuk kompetensi yang harus dimiliki oleh peserta pelatihan, tujuan tersebut bisanya dirumuskan dalam tujuan umum dan tujuan khusus.[7] Berdasarkan pada hal tersebut, dapat dipahami bahwa perumusan tujuan pelatihan pada akhirnya akan mengarah pada tujuan secara umum dan khusus. Tujuan umum merupakan menentukan tujuan pelatihan yang bersifat umum yang diharapkan mampu untuk memberikan kontribusi pencapaian tujuan instansi atau organisasi. Sedangkan pada tujuan khusus lebih pada perumusan tujuan pelatihan secara spesifik yang perlu di capai setelah menyelesaikan seluruh pokok materi pelatihan. Perumusan tujuan pelatihan secara khusus ini lebih menekankan pada perubahan perilaku yang dapat diobservasi setelah mengikuti pelatihan dalam kurun waktu yang telah ditentukan.[8]
Misalnya, terdapat pelatihan yang didanai oleh pemerintah pusat dengan tema “Pelatihan Guru: Implementasi Kurikulum 2013 di Sekolah/Madrasah” secara umum adanya pelatihan tersebut bertujuan agar sekolah/madrasah dan guru dapat menerapkan kurikulum 2013 sesuai dengan peraturan yang telah dibuat oleh pemerintah. Tetapi jika melihat tujuan secara khusus, pelatihan tersebut menginginkan adanya perubahan mindset guru dan pengelola, memahami maksud dan tujuan kurikulum 2013, dapat merancang perangkat pembelajaran kurikulum 2013, dapat memahami materi ajar kurikulum 2013. Sehingga pelatihan tersebut membutuhkan waktu pelatihan yang tidak hanya sehari, tetapi butuh waktu berhari-hari.

Sumber-sumber Acuan dalam Menentukan Tujuan Pelatihan
Perlu diketahui bersama, bahwa tujuan pelatihan tidak dapat ditentukan apabila tidak ada suatu yang hal yang terjadi di suatu instansi atau oraganisasi. Pada dasarnya perumusan tujuan pelatihan ini harus dilihat dari kesenjangan yang terjadi pada seseorang dalam suatu instansi atau organisasi, mulai dari kesenjangan pengetahuan, kesenjangan sikap, dan kesenjangan keterampilannya. Sehingga apabila sudah diketahui kesenjangan yang ada, maka akan dengan mudah untuk menentukan suatu tujuan pelatihan atau diklat.[9] Hal itulah yang menjadi suatu acuan dalam menentukan tujuan pelatihan.
Selain itu terdapat juga beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam merumuskan tujuan pelatihan, yaitu: perubahan yang ingin di capai, sumber daya yang tersedia, dan waktu yang harus ditentukan.[10] Ketiga hal tersebut menjadi suatu hal yang sangat penting dalam menentukan tujuan pelatihan. Perubahan yang ingin dicapai tentu meliputi aspek knowledge, skill  dan attitude. Sedangkan sumber daya ini meliputi dana yang akan digunakan, sebab jika dana yang ada hanya minimalis, tentu tidak dapat merumuskan tujuan yang menyeluruh. Adapun waktu juga menjadi perhatian dalam segala kegiatannya.
Mager dalam Ikka menyatakan bahwa ada cara yang dapat dilakukan dalam merumuskan tujuan. Pertama, berdasarkan pada bentuk kelakuan yang dapat diamati dan di ukur, sehingga sejauhmana tujuan itu dapat dicapai. Kedua berdasarkan pada kondisi apa tujuan itu ingin dicapai, ketiga berdasarkan pada kriteria tingkat keberhasilan yang ingin dicapai, dan keempat dalam perumusannya digunakan kata kerja yang dapat dilakukan oleh peserta setelah mengikuti suatu pelatihan.[11] Keempat cara tersebut dapat menjadi suatu sumber acuan untuk menentukan tujuan pelatihan yang akan dilaksanakan untuk mengasilkan perubahan yang sangat signifikan.

Merancang dan Menentukan Materi Pelatihan
Setelah tujuan pelatihan tersebut ditentukan dengan baik dan benar, maka langkah selanjutnya adalah menentukan materi pelatihan yang sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan  untuk kemudian diberikan kepada peserta pelatihan. Materi tersebut tentunya merupakan materi yang dapat membawa perubahan pada peserta pelatihan baik untuk mengembangkan atau meningkatkan kemampuan para peserta pelatihan.[12] Dalam menentukan materi harus tepat dan benar, sebab materi itulah yang sangat penting untuk disampaikan kepada peserta pelatihan sesuai dengan tujuan-tujuan yang ditentukan.
Pengembangan materi pelatihan pada hakikatnya bersumber pada empat aspek, yaitu: pertama kebutuhan masyarakat atau pengguna dari lembaga atau instansi; kedua kebutuhan lembaga dalam mencapai tujuan melalui pengurangan kesenjangan kompetensi yang dimiliki; ketiga kebutuhan individu yang berkedudukan sebagai pelaksana maupun pimpinan lembaga yang mengalami kesenjangan kompetensi; keempat ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.[13] Keempat aspek ini harus digunakan dalam kebutuhan secara seimbang, sehingga dapat menghasilkan pelatihan yang tepat dan benar. Namun dari keempat aspek tersebut tentu ada salah satu yang menjadi keutamaan dalam pelaksanaan pelatihan, hal itu disebabkan pada kebutuhan yang diinginkan oleh suatu lembaga yang melaksanakan pelatihan dan berdasarkan pada tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.
Selain keempat aspek tersebut, ada juga kriteria  yang perlu dipahami dalam menetapkan suatu materi pelatihan, kriteia tersebut meliputi:
1)      Bahan harus valid dan signifikan, dalam artika bahwa materi yang disusun haruslah menggambarkan pengetahuan dan keterampilan yang sangat yang berkembang pada saat ini.
2)      Materi yang ingin disajikan harus relevan dengan keadaan sosial dan kultural yang berkaitan dengan dunia kerja peserta pelatihan, sehingga pada hasilnya akan dapat diterapkan pada keadaan yang akan datang.
3)      Materi harus mencakup pada tiga aspek, yakni pengetahuan, keterampilan dan sikap.
4)      Materi pelatihan harus sesuai dengan kebutuhan, kemampuan dan minat peserta pelatihan, sehingga dapat menghubungkan dengan pengalaman kerjanya.[14]
Kiterian tersebut sangat penting untuk diperhatikan bagi penyelenggara pelatihan, sebab materi yang tepat dapat menghasilkan peserta yang dapat menerapkan dengan tepat pula. Lantas bagaimana caranya merancang materi pelatihan dengan baik dan tepat sasaran? Berikut saya sajikan langkah-langkah konkrit yang dapat dilakukan dalam menyusun dan mengembangkan isi materi pelatihan.
1)      Menetapkan tujuan yang sesuai dengan permasalahan yang terjadi sehingga perlu diadakannya suatu pelatihan
2)       Berdasarkan pada tujuan yang sudah ditentukan, yang kemudian menetapkan kompetensi yang dicapai dalam pelaksanaan pelatihan. Ditetapkannya kompetensi tersebut yang  kemudian menyusun daftar materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai dan didalamnya terdapat ide-ide pokok yang relevan dengan tujuan yang telah ditetapkan.
3)      Susunlah daftar prioritas topik materi berdasarkan pada urutan yang telah ditentukan.[15]
Jika diapahami secara sederhana, bahwa dalam menentukan materi harus berdasarkan pada tujuan yang terlah ditetapkan, yang kemudian ditetapkannya kompetensi yang harus dicapai oleh peserta. Berdasarkan pada kompetensi tersebut materi dapat disusun dengan tepat. Sehingga pada awalnya, materi itu menarik untuk diketahui, kemudian berguna untuk diketahui, dan pada akhirnya adalah harus diketahui oleh peserta pelatihan.
Setelah materi pelatihan ditentukan, maka perlu adanya alat bantu yang sering kali disebut dengan media. Alat bantu merupakan alat-alat yang digunakan oleh pelatihan dalam menyampaikan materi pelatihan kepada peserta. Alat bantu ini disusun berdasarkan pada pronsip bahwa pengetahuan yang ada pada setiap manusia dapat diterima dan ditangkap melalui panca indra.[16] Semua rangkaian materi dengan alat bantu yang telah ditentukan tersebut dimuat dalam  sebuah tabel sebagaimana contoh berikut:














Semua materi dan seluruh persiapannya yang harus direncanakan dengan baik dan tepat, sehingga tepat pula kegiatan pelatihan diselenggarakan. Penyelenggara pelatihan memiliki peranan penting dalam seluruh kegiatan persiapan. Khususnya dalam penyiapan bahan ajar dan segala hal yang diperlukan dalam proses pembelajaran atau pelatihan.[17]
Merancang Silabus Strategi Instruksional dalam Pelatihan
Kegiatan pelatihan ini sangat penting sakali untuk dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas kerja dan melakan perubahan, dan pastinya dalam kegiatan tersebut perlu adanya silabus pelatihan. Silabus merupakan penjabaran kompentensi yang akan dicapai oleh peserta pelatihan, sehingga isi dari silabus tersebut terdiri dari kompetensi dan sub-kompetensi, indikator, materi, waktu, dan sarana belajar.[18] Namun terdapat beberapa contoh dalam membuat silabus, diantaranya sebagaimana berikut:















Silabus tersebut merupakan salah satu contoh sebagai bahan dan persiapan melaksanakan pelatihan penerapan kurikulum 2013 untuk sekolah maupun madrasah. Membuat silabus tersebut tidak jauh berbeda dengan membuat silabus mata pelajaran, hanya pada bagian tertentu yang berbeda.

Penutup
Dalam merencanakan tujuan, haruslah tepat sasaran. Sehingga dapat menghasilkan perubahan yang sangat tepat sesuai dengan keinginan dan berdasarkan pada tujuan instansi. dalam perumusannya harus mengarah pada tiga aspek, yaitu: knowledge, skill, dan attitude. Merumuskan tujuan harus didasari oleh beberapa sumber yang menjadikan tujuan pelatihan tersebut sesuai dengan yang diharapkan.
Setelah tujuan dapat dirancang dengan baik, maka perlu ditentukan materi yang sesuai dengan tujuan tersebut. Materi harus valid dan berdasarkan pada kondisi sosial kultural para peserta. Semua yang berkaitan dengan materi dapat dituangkan dalam silabus, dan silabus inlah yang nantinya akan menjadi acuan dalam pelaksanaan pelatihan.

Daftar Pustaka
Fauzi, Ikka Kartika A. 2011. Mengelola Pelatihan Partisipatif . Bandung: Alfabeta.
Daryanto dan Bintoro. 2014. Manajemen Diklat. Yogyakarta: Penerbit Gava Media.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2009. Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta.
Mujiman, Haris. 2011. Manajemen Pelatihan Berbasis Belajar Mandiri. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.



[1] Penulis Merupakan Mahasiswa Program Magister Pendidikan Agama Islam Pascasarjana IAIN Madura Semester III Tahun Akademik 2018/2019
[2] Ikka Kartika A. Fauzi, Mengelola Pelatihan Partisipatif  (Bandung: Alfabeta, 2011), 8.
[3] Fauzi, Mengelola Pelatihan., 63
[4] Ibid., 63-64
[5] Ibid., 65
[6] Ibid., 64
[7] Daryanto dan Bintoro, Manajemen Diklat (Yogyakarta: Penerbit Gava Media, 2014), 35
[8] Ibid., 67
[9] Ibid., 63
[10] Ibid., 66
[11] Ibid., 66-67
[12] Soekidjo Notoatmodjo, Pengembangan Sumber Daya Manusia (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), 22
[13] Fauzi, Mengelola Pelatihan., 69
[14] Fauzi, Mengelola Pelatihan., 69-70
[15] Ibid., 70-71
[16] Notoatmodjo, Pengembangan Sumber., 52
[17] Haris Mujiman, Manajemen Pelatihan Berbasis Belajar Mandiri (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), 65
[18] Daryanto dan Bintoro, Manajemen Diklat., 91

Komentar

Postingan Populer